Daerah

Jeritan Hati Masyarakat Adat Suku Balik di Samarinda: IKN Bukan Bawa Kebahagiaan, Tapi Kehancuran

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 18 Maret 2024 03:55
Jeritan Hati Masyarakat Adat Suku Balik di Samarinda: IKN Bukan Bawa Kebahagiaan, Tapi Kehancuran
Masyarakat adat yang terdampak pembangunan IKN, menyampaikan suara hatinya di depan Gerbang Universitas Mulawarman. (Defrico/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara diwarnai keprihatinan bagi 15 masyarakat adat Suku Balik, Pemaluan, dan Sepaku. Mereka datang ke Samarinda untuk menyuarakan jeritan hati mereka terkait ancaman yang ditimbulkan oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di depan Gerbang Universitas Mulawarman pada Sabtu (17/3/2024), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyediakan panggung bagi mereka untuk menyuarakan aspirasinya.

Elis, salah satu perwakilan masyarakat adat, mengungkapkan dampak pembangunan IKN yang mereka rasakan. 

"Kami merasakan betul dampaknya, seperti masyarakat adat ini tidak diakui, dan kami tidak pernah dilibatkan untuk menyuarakan apa mau kami," pungkasnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun pemerintah telah berkomunikasi dengan beberapa tokoh adat, masyarakat adat merasa tidak pernah dilibatkan secara menyeluruh.

"Tokoh adat yang mana, masyarakat yang mana. Tau tau sudah masang patok, di beberapa tempat tinggal, ataupun lahan kebun kami. Khususnya di wilayah yang terdampak IKN," tuturnya.

Elis menjelaskan, dirinya bersama masyarakat adat yang terdampak mengaku cemas. Sebab, tempat tinggal mereka akan terdampak dari pembangunan wilayah Ring 1 IKN. 

"Terancam digusur, kami mau pindah ke mana," kata Elis.

Sebagai bentuk mempertahankan kampungnya, masyarakat adat akan terus menyuarakan haknya, untuk mendapatkan keadilan akibat dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan IKN.

Sementara itu, masyarakat adat yang lain juga menyampaikan perasaannya, atas dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan IKN tersebut. 

"IKN bukan membawa kebahagiaan. Tapi membawa kehancuran bagi kami masyarakat adat," ungkap Jakiyah.

Dia mengungkapkan bahwa, sudah ada tindakan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat adat, Khususnya bagi masyarakat Pemaluan. Mereka disuruh untuk mengosongkan tempat tinggalnya.

"Tolong beri kami keadilan, kami butuh ruang hidup dan ingin hidup," tutupnya.

[RWT]

Simak berita dan artikel Kaltim Today lainnya di Google News, dan ikuti terus berita terhangat kami via Whatsapp 



Berita Lainnya