DPRD KALTIM

Lambatnya Penurunan Stunting Jadi Alarm Bagi Masa Depan SDM Kaltim Menjelang IKN

Claudius Vico Harijono — Kaltim Today 29 November 2025 16:46
Lambatnya Penurunan Stunting Jadi Alarm Bagi Masa Depan SDM Kaltim Menjelang IKN
Ilustrasi stunting. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Prevalensi stunting di Kalimantan Timur yang mencapai 22,2 persen pada 2024 kembali memicu kekhawatiran publik. Dengan jumlah 39.137 anak terdampak dan penurunan hanya 0,7 persen dalam tiga tahun terakhir, Kaltim dinilai berada pada titik kritis menjelang perannya sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengingatkan bahwa stunting tidak hanya persoalan kesehatan anak, tetapi juga ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Jika masih berkutat dengan stunting, bagaimana kita bisa mencetak generasi emas 2045? Stunting menghambat perkembangan otak dan produktivitas jangka panjang,” ujar Ananda.

Menurutnya, penanganan stunting harus dimulai dari hulunya: remaja putri dan ibu hamil. Tingginya kasus anemia di Kaltim menjadi faktor pemicu kelahiran berisiko yang berujung pada stunting sejak awal kehidupan.

Selain itu, sanitasi buruk di beberapa wilayah semakin memperburuk kondisi anak akibat tingginya penyakit infeksi. Hal ini memperlihatkan pentingnya intervensi lintas sektor, bukan hanya program gizi semata. 

Ananda menilai bahwa, posyandu harus diperkuat sebagai pusat intervensi terpadu. Namun hingga kini, posyandu masih kekurangan tenaga kompeten, khususnya ahli gizi yang mampu menangani kasus secara mendalam.

Dengan waktu yang semakin singkat menuju 2045, ia mendesak pemerintah mempercepat pemetaan keluarga berisiko, memperbaiki akses sanitasi, dan menambah tenaga kesehatan terlatih di lapangan.

“Kita ingin Kaltim benar-benar siap sebagai penyangga IKN. Itu mustahil jika masih ada puluhan ribu anak yang tumbuh tidak optimal,” pungkasnya.

[RWT | ADV DPRD KALTIM] 



Berita Lainnya