Entertainment
Keracunan Makanan Bisa Picu Amnesia, Kenali Bahaya Domoic Acid pada Kerang
Kaltimtoday.co - Keracunan makanan ternyata tidak melulu memicu keluhan klasik pada saluran pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah, atau diare, melainkan juga berpotensi menyerang sistem saraf pusat hingga memicu amnesia.
Gangguan neurologis langka berupa kehilangan daya ingat tersebut berkaitan erat dengan kondisi amnesic shellfish poisoning (ASP) akibat paparan racun alami bernama asam domoat (domoic acid) yang mengendap pada produk boga bahari.
Merujuk pada catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), asam domoat merupakan senyawa neurotoksin yang diproduksi oleh mikroalga diatom genus Pseudo-nitzschia. Racun ini dapat terakumulasi melalui rantai makanan pada berbagai biota laut, khususnya jenis kerang-kerangan seperti remis (mussels), kerang kampak (scallops), kijing (razor clams), hingga kepiting atau krustasea lainnya.
Secara biologis, asam domoat bekerja menyerang reseptor neurotransmiter glutamat di otak, yang berujung pada kerusakan jaringan vital pengendali memori dan proses belajar. Setelah gejala mual atau diare mereda dalam kurun kurang dari 24 jam pascakonsumsi, korban dapat mengalami kebingungan, disorientasi spasial, hingga kehilangan memori jangka pendek, baik amnesia anterograd maupun retrograd. Pada paparan berkadar tinggi, kondisi ini berisiko memicu kejang hebat, kerusakan ingatan permanen, koma, hingga kematian. Kasus fatal pernah tercatat dalam wabah besar di Kanada pada 1987 silam.
Selain asam domoat, dunia medis mencatat sejumlah racun pangan lain yang juga sanggup menyerang sistem saraf, meski tidak memicu gejala hilang ingatan secara spesifik:
Pertama, botulinum toxin yang diproduksi oleh bakteri Clostridium botulinum. Racun mematikan yang kerap ditemukan pada makanan kalengan rendah asam, produk daging, atau fermentasi yang cacat pengolahan ini menghambat transmisi saraf motorik hingga menyebabkan kelumpuhan otot secara progresif dan gagal napas.
Kedua, tetrodotoxin yang terkandung secara alami pada organ hati dan ovarium ikan buntal (pufferfish). Paparan racun ini bekerja sangat kilat dalam rentang 10 menit hingga 4 jam, menimbulkan sensasi kebas, gangguan pernapasan akut, hingga kelumpuhan total tanpa menyebabkan amnesia.
Ketiga, ciguatoxin yang terakumulasi pada ikan karang predator besar seperti barakuda, kerapu, kakap, dan belut moray. Keracunan ciguatera khas dengan gejala reversal of hot and cold sensation, yakni fenomena unik di mana permukaan yang dingin justru terasa membakar panas pada kulit penderita.
Faktor keempat adalah paparan histamin akibat degradasi kesegaran ikan seperti tuna atau makerel (scombroid fish poisoning). Kondisi ini memicu reaksi peradangan menyerupai syok alergi mendadak, sensasi terbakar di tenggorokan, serta kemerahan pada kulit.
Para ahli mengingatkan bahwa setiap gangguan saraf yang muncul setelah mengonsumsi hidangan laut wajib ditangani secara darurat di fasilitas medis guna mengantisipasi kerusakan jaringan otak yang lebih parah.
[RWT]
Related Posts
- Kapan Harus Operasi Mata Katarak? Kenali Tanda dan Waktu yang Tepat
- Sahib Desak Korwil Bontang BGN Dievaluasi Usai Dua Kasus Keracunan MBG
- Anggaran Pendidikan RAPBN 2027 Tembus Rp 820,9 Triliun, Termasuk untuk Makan Bergizi Gratis
- DPRD Bontang Dorong Evaluasi Menu MBG, Keluhan Sekolah Diminta Disampaikan Secara Resmi
- SMP Vidatra Bontang Hentikan Sementara MBG Usai Sejumlah Siswa Alami Mual dan Muntah









