Daerah

Konsisten Selama 7 Tahun, Lapak Hewan Kurban di Simpang Empat Tenggarong Tetap Ramai Diburu Warga

Supri Yadha — Kaltim Today 19 Mei 2026 18:22
Konsisten Selama 7 Tahun, Lapak Hewan Kurban di Simpang Empat Tenggarong Tetap Ramai Diburu Warga
Saparuddin Pabonglean menunjukan sapi yang dijual di lapaknya. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Aroma rumput hijau bercampur suara lenguhan sapi menyambut siapa saja yang melintas di simpang empat Jalan Lais, AP Mangkunegoro, dan Adji Masnandai, tepat di dekat kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar).

Di lokasi itulah, setiap menjelang Idul Adha, Saparuddin Pabonglean membuka lapak hewan kurban yang sudah menjadi langganan masyarakat selama bertahun-tahun.

Deretan sapi Bali berukuran besar tampak santai di kandang sementara dan mengisi setiap  sudut lapangan terbuka sambil memakan rerumputan.

Sesekali beberapa pekerja terlihat menyiapkan pakan hijauan. Di sudut lain, kambing-kambing etawa dan domba berdiri berjejer menunggu calon pembeli datang memilih.

Tahun ini, Saparuddin kembali menyediakan sekitar 150 ekor sapi untuk kebutuhan kurban masyarakat. Mayoritas merupakan sapi Bali yang dikenal lebih terjangkau, sementara sebagian kecil lainnya terdiri dari sapi limosin dan brangus.

“Harga mulai Rp16 juta sampai Rp40 jutaan. Sebagian ada limosin tetapi tidak banyak, hanya dua ekor, ada juga jenis brangus. Namun mayoritas sapi Bali karena harganya lebih terjangkau,” kata Saparuddin kepada Kaltimtoday.co, Selasa (19/5/2026).

Sebagian besar hewan kurban tersebut didatangkan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada pula yang berasal dari Sulawesi Selatan, sementara sebagian lainnya merupakan hasil pemeliharaan masyarakat lokal yang bekerja sama dengannya.

Proses pemeliharaan sapi berlangsung dengan waktu berbeda-beda. Ada yang dipelihara hingga setahun, delapan bulan, enam bulan, bahkan paling singkat tiga bulan sebelum dijual sebagai hewan kurban. Pola kerja sama itu melibatkan kelompok tani dan warga di sejumlah wilayah seperti Spontan, Rapak Lambur, Jahab, hingga Bukit Biru.

Meski kondisi ekonomi masyarakat disebut sedang tidak mudah, tetapi minat pembeli tetap cukup tinggi. Hingga sepekan menjelang Iduladha, penjualan sapi disebut sudah mencapai lebih dari separuh stok yang tersedia.

“Yang terjual sekitar 60 sampai 70 persen. Masih ada waktu kurang lebih seminggu lagi, mudah-mudahanterus bertambah,” sambungnya.

Pembeli datang bukan hanya dari Tenggarong. Beberapa pelanggan juga berasal dari kecamatan lain seperti Kembang Janggut hingga Marangkayu. Bahkan ada pula yang memesan dari Samarinda.

Untuk wilayah yang jauh dari Tenggarong, pengiriman dikenakan biaya tambahan, sementara kawasan yang masih dekat biasanya diantar tanpa ongkos kirim. Mayoritas pembeli meminta hewan kurban dikirim mendekati hari pelaksanaan penyembelihan, mulai H-3 hingga sehari sebelum Iduladha.

Menurut Saparuddin, jumlah penjualan selama beberapa tahun terakhir cenderung stabil di angka sekitar 150 ekor sapi setiap musim kurban. Namun ia mengakui, daya beli masyarakat saat ini ikut terdampak kondisi ekonomi global.

“Selama tujuh tahun terakhir memang rata-rata berada di angka 150 ekor. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat saat ini juga terdampak imbas perang,” imbuhnya.

Tak hanya sapi, lapaknya juga menyediakan sekitar 35 ekor kambing dengan harga mulai Rp4 juta hingga Rp9 juta. Jenis yang tersedia antara lain kambing etawa dan domba.

Untuk menjaga kondisi hewan tetap sehat, pakan yang diberikan masih sederhana berupa rumput hijauan. Saat berada di peternak, beberapa hewan biasanya mendapat tambahan dedak hingga singkong cacah untuk membantu pertumbuhan.

“Pakan yang digunakan di antaranya rumput gajah dan rumput biasa yang diarit langsung dari alam,” tuturnya.

Di tengah kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok yang terus dirasakan masyarakat, Saparuddin tetap berharap semangat berkurban tidak ikut surut. Ia meyakini masyarakat masih memiliki kemampuan untuk berkurban, setidaknya melalui sistem patungan.

“Kami berharap tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan masyarakat, meskipun kondisi perekonomian sedang sulit akibat melambungnya harga BBM dan lain sebagainya, tetap bisa berkurban,” kata Saparuddin.

Baginya, Iduladha bukan sekadar momentum jual beli hewan kurban, tetapi juga pengingat tentang kepedulian dan keikhlasan berbagi kepada sesama.

Ia menilai, masyarakat masih mampu kalau hanya berkurban satu bagian atau satu kambing, atau paling tidak ikut patungan. Karena Rasulullah juga pernah menyampaikan “barang siapa yang memiliki kelapangan rezeki atau kemampuan tetapi tidak mau berkurban, maka jangan mendekati tempat salat kami.”

“Walaupun secara hukum mungkin bukan wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan atau sunnah muakkad,” tandasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya