Opini

Membangun Disiplin Positif di Sekolah

Oleh: Gunawan, M.Pd (Guru SMK N 2 Samarind, Peserta CGP angkatan 5)

Ada banyak hal yang diyakini masyarakat umum, khususnya masyarakat sekolah tentang penciptaan disiplin kepada murid atau anak pada umumnya yang harus diubah, seperti penciptaan disiplin dengan hukuman, baik hukuman positif maupun hukuman bersifat negatif dan termasuk penghargaan yang tidak sesuai lagi dengan paradigma penciptaan disiplin positif. Maka kita perlu merubah bagaimana membangun disiplin positif kita dengan terlebih dahulu merubah paradigma kita tentang kontrol terhadap pihak lain.

Hukuman dan penghargaan dalam berbagai bentuknya adalah penciptaan kontrol kepada pihak lain dengan memberikan stimulan. Dari yang kelihatan baik seperti membujuk, kemudian yang agak negatif kemudian memaksa sebagai hal yang tidak mengenakkan maupun bujukan yang memberi kesenangan dalam bentuk penghargaan adalah bentuk agar orang lain, dalam hal ini murid, mengikuti keinginan kita.

Paradigma stimulan respon ini di permukaan sepertinya berhasil dalam menciptakan murid “yang disiplin”. Mereka hadir ke sekolah tepat waktu, tidak merokok di sekolah, tidak tawuran di sekolah, mengerjakan tugas, tidak mencuri di sekolah, tidak merusak di sekolah, tidak merokok, taat pada guru, berpakaian rapi, ibadah di sekolah dan lainnya, tetapi apakah “budaya disiplin” tersebut cukup berhasil merembas di luar sekolah, sebuah pertanyaan yang memang perlu pembuktian yang valid tetapi secara kasat mata disiplin positif di sekolah tidak cukup terbawa sampai ke rumah atau ke masyarakat.  Sesampainya mereka di luar pagar, mereka mengatakan selamat tinggal kepatuhan dan kedisplinan, maka kita akan melihat mereka merokok setapak meninggalkan gerbang sekolah, mereka akan ugal-ugalan di jalan raya, dan bentuk-bentuk ketidakdisiplinan lainnya.

Baca juga:  Disdikbud Kukar Siapkan Anggaran Rp5 Miliar untuk Program 1.000 Guru Sarjana

Maka hal pertama yang dilakukan oleh guru adalah merubah paradigma kita tentang tentang kontrol.  Mengapa ini penting? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa, “..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”. 

Terkait dengan paradigma penciptaan disiplin tentang stimulan respon dan teori kontrol, dalam stimulan respon kita ingin menciptakan orang lain, dalam hal ini murid sama dengan kita, guru. Bahwa kebutuhan kita sama. Semua orang melihat hal yang sama. Kita mencoba mengubah orang agar berpandangan sama dengan kita. Perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan.Orang lain bisa mengontrol saya, Saya bisa mengontrol orang lain, pemaksaan ada pada saat bujukan gagal, model berpikir menang/kalah. Kita merubah paradigma kita akan orang lain menjadi teori kontrol bahwa realitas (kebutuhan) kita berbeda.  Setiap orang memiliki gambaran berbeda. Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. Semua perilaku memiliki tujuan, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda. Anda tidak bisa mengontrol orang lain, kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru, model berpikir menang-menang.

Setelah kita merubah paradigma kita terhadap murid dari stimulan respon ke teori kontrol adalah pemahaman kita tentang makna disiplin. Sekolah memang wadah persemaian disiplin murid yang harapannya menjadi masyarakat yang disiplin, karena memang banyak kesuksesan kehidupan lahir dari sikap dan karakter disiplin. Bagaimana sesungguhnya disiplin itu. Disiplin dalam bahasa sehari kita artikan ketaatan terhadap peraturan sehingga kadangkala untuk disiplin orang lain harus melakukan pemaksaan kepada pihak lain yang tidak jarang menimbulkan ketidaknyaman bagi murid yang kita ingin disiplinkan karena ada unsur pemaksaan.

Padahal disiplin arti yang sebenarnya, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’ berasal dari bahasa latin. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Dari arti ini seorang murid yang “disiplin” karena diperintah peraturan atau takut kepada guru sesungguhnya belum disiplin artinya perturan yang dibuat itu tidak meciptakan kedisiplinan karena mereka patuh atas motivasi eksternal.

Maka yang harus dibangun kepada murid adalah disiplin yang sesungguhnya yang terbangun dari belajar kontrol dirinya untuk mencapai tujuan-tujuan kebajikan universal sebagai sesuatu yang diyakini untuk dijalankan. Keyakinan universal adalah keyakinan akan kebenaran yang semua orang menyetujuinya untuk dijalankan dan disepakati untuk dilaksanakan, dan biasanya semua manusia sepakat tentang kebajikan ini terlepas dari latar belakang apapun, seperti kebajikan kasih sayang, menghargai orang lain, kejujuran, kebersihan, kesehatan, keteraturan, baik hati, dan lainnya atau dalam hubungannya dengan profil pelajar Indonesia yaitu yang termasuk dalam dimensi profil pelajar Pancasila mulai dari beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis, yang lebih rinci menjadi elemen dan subelemen dari enam dimensi tersebut.

Pertanyaan yang selanjutnya apa sesungguhnya yang mendorong kita melakukan sesuatu itu atau apa yang mendorong murid melakukan tindakan-tindaknya, yang baik ataupun yang kita anggap pelanggaran. Diane Gossen menyatakan, ada 3 motivasi perilaku manusia: 1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, 2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, 3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Peran Manajer Guru dalam Membangun Disiplin Positif Murid 

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita sebagai guru untuk untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada murid-murid kita?

Dari tiga motivasi manusia melakukan sesuatu itu, maka sekolah menciptakan disiplin positif dengan tiga cara yaitu hukuman, konsekuensi dan restitusi. Untuk mencitakan disiplin positif yang sesungguhnya adalah dengan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat, ini yang disebut sebagai restitusi (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.

Melalui pendekatan restitusi, ketika murid berbuat salah yang melibatkan pihak lain misal perkelahian, atau mengambil barang temannya, guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah.

Ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin lainnya, 1) Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan, 2) Restitusi memperbaiki hubungan, 3) Restitusi adalah tawaran, 4) bukan paksaan, 5) Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri, 6) Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan, 7) Restitusi diri adalah cara yang paling baik, 8) Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan, 9) Restitusi menguatkan, 10) Restitusi fokus pada solusi, 11) Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.

Hal yang penting diketahui guru tentang perilaku murid adalah bahwa murid memiliki ‘tujuan’ dibalik perilaku mereka, salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, ada 5 kebutuhan dasar manusia yang menjadi dasar perilaku, yaitu 1) Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya kesehatan, rumah, dan makanan, 2) Kasih sayang dan Rasa Diterima (Kebutuhan untuk Diterima), 3) Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan), 4) Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan), 5) Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang).

Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. 1) Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi, 2) Pembuat Merasa Bersalah: pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri, 3) Teman: Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi, 4) Pemantau: Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau, 5) Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

Posisi membangun disiplin positif yang terbaik yang diperankan guru adalah posisi Manajer. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.

Bagaimana cara melakukannya. Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitusi/restitution triangle dengan 3 langkah, 1) Menstabilkan Identitas, yang bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal, 2) Validasi Tindakan yang Salah Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut 3) Menanyakan Keyakinan, sesuai Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.

Ketika guru membangun disiplin positif murid dengan restitusi dengan peran sebagai manajer bukan sebagai penghukum, maka kita guru akan ditempatkan oleh siswa dalam dunia berkualitas mereka, yaitu tempat khusus dalam pikiran murid, tempat murid menyimpan gambaran representasi dari semua yang mereka inginkan: bisa berisi orang orang, hal-hal dan apa saja yang terbaik dalam hidup mereka dan membuat mereka merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan dasar mereka. Tentunya sebagai guru kita ingin mereka memasukkan hal-hal yang bermakna dan nilai-nilai kebajikan yang hakiki ke dalam dunia berkualitas mereka. Bila guru dapat membangun interaksi yang memberdayakan dan memerdekakan murid, maka murid akan meletakkan dirinya sendiri sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas karena mereka menghargai nilai-nilai kebajikan.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker