Daerah

Menyambung Suara Komunitas: Suara Zetizen Diluncurkan, Gaungkan Semangat Jurnalisme Konstruktif

Muhammad Razil Fauzan — Kaltim Today 30 Agustus 2025 10:28
Menyambung Suara Komunitas: Suara Zetizen Diluncurkan, Gaungkan Semangat Jurnalisme Konstruktif
Suasana Program Suara Zetizen yang digelar oleh Kaltim Today pada Sabtu, (30/8/2025). (Fauzan/kaltimtoday)

Kaltimtoday.co - Ada satu benang merah yang tampak jelas dari peluncuran program Zetizen Talk milik Kaltimtoday.co pada Sabtu, (30/8/2025) pagi: media tak bisa berjalan sendiri. Dalam dunia yang makin terfragmentasi oleh algoritma dan banjir informasi, suara komunitas menjadi jangkar yang penting. 

Di sinilah, “Suara Zetizen” muncul bukan sekadar sebagai podcast—melainkan ruang dialektika, tempat aspirasi dan keresahan disuarakan dan dikoneksikan langsung ke pihak-pihak yang bisa membuat perubahan.

“Suara zetizen ini podcast namun bergerak dari suara komunitas. Jadi ketika mereka mau menyampaikan aspirasinya, kita akan berikan ruang untuk mempertemukan dengan pihak terkait demi mencari solusi terbaik,” kata Ibrahim, Pimpinan Redaksi sekaligus Penanggungjawab Kaltimtoday.co dalam peluncuran perdana tersebut.

Program ini menjadi salah satu bentuk konkret dari upaya memperpendek jarak antara media dan publik, terutama generasi muda. Dengan membawa semangat kolaboratif, Kaltim Today membuka ruang dialog bagi komunitas Gen Z untuk menyuarakan isu-isu yang sering kali hanya bergaung di media sosial namun tak sampai menjadi percakapan publik yang strategis.

“Kami berharap podcast Suara Zetizen ini lebih banyak lagi keterlibatan teman-teman komunitas untuk memberikan ide, gagasan serta aspirasinya untuk terlibat dan berdiskusi di program ini,” lanjut Ibrahim.

Peluncuran ini dibarengi dengan sesi talk show bertema “Membuat Konten Bermakna dan Berdampak Lewat Jurnalisme Konstruktif” yang menghadirkan Eva Danayanti, Country Program Manager IMS for Indonesia, dan Ibrahim sendiri sebagai pembicara.

Topik jurnalisme konstruktif memang bukan hal baru, namun pendekatan ini menemukan relevansinya kembali dalam konteks perkembangan media digital dan keresahan anak muda terhadap pemberitaan yang hanya berputar pada sensasi dan konflik.

“Jadi jurnalisme konstruktif ialah sebuah pendekatan jurnalisme atau konten yang tidak hanya fokus pada masalah, tapi juga memberi konteks kenapa isunya penting, menawarkan solusi dan inspirasi, memberi ruang harapan dan aksi,” jelas Eva dengan lugas. 

Baginya, jurnalisme konstruktif bukan berarti abai pada kritik atau hanya berbicara soal hal-hal positif. Sebaliknya, pendekatan ini tetap memunculkan problematika nyata, namun tidak berhenti di sana. 

“Jurnalisme tetap kritis, bukan hanya mengobrolin hal-hal baik, problem tetap dimunculkan tetapi kita berusaha memberikan solusi di dalamnya,” katanya.

Ibrahim juga menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar bentuk partisipasi simbolik, tapi upaya sadar untuk mengintegrasikan aspirasi masyarakat dalam praktik redaksional.

“Kolaborasi media dan komunitas menjadi sangat penting untuk memotong jarak antara masyarakat dan pers. Maka dari itu, kami yakin bahwa kita, kami di Kaltim, butuh pendekatan baru yaitu Jurnalisme Konstruktif,” imbuhnya.

Selama dua tahun terakhir, tim redaksi Kaltim Today aktif mengundang komunitas muda untuk bercerita langsung di ruang redaksi. Proses ini kemudian melahirkan kepercayaan bahwa diskusi yang tulus bisa menjadi benih perubahan.

“Di Suara Zetizen kami memang mengundang kawan-kawan untuk bergabung dalam sebuah grup untuk mendiskusikan hal-hal yang menjadi keresahan masyarakat,” ujar Ibrahim.

Dari isu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Pemilu, energi, hingga lingkungan, Gen Z di Kalimantan Timur disebut Ibrahim haus akan informasi yang relevan dan berdampak langsung.

“Hadirnya Suara Zetizen juga hadir dengan keinginan baik yaitu dengan bersama komunitas membangun jurnalisme yang berdampak dan memberikan harapan,” tambahnya.

Eva menambahkan bahwa, kekuatan utama jurnalisme konstruktif terletak pada kemampuannya menjembatani keterhubungan. 

“Yang paling penting dalam jurnalisme konstruktif ialah membuat audiens terhubung, nah di situ yang bisa kami apresiasi untuk Kaltim Today. Jadi publik terlibat untuk mengangkat suara-suara masyarakat,” bebernya. 

Sebagai event pertama, Zetizen Talk bukan hanya membuka perbincangan, tetapi juga memulai ekosistem. Program ini mengajak generasi muda untuk berdiskusi dan berkontribusi dalam isu pelayanan publik melalui kombinasi podcast, komunitas, serta kolaborasi dengan pakar. Bukan ruang eksklusif, melainkan forum terbuka yang ingin mengikis sekat antara suara warga dan narasi media. 

[RWT] 



Berita Lainnya