Daerah
Soal Penataan Lapak Pasar Pagi, Pedagang Sarankan Berbasis Arus Pembeli dan Perputaran Uang
Kaltimtoday.co, Samarinda - Revitalisasi gedung baru Pasar Pagi Samarinda yang terdiri dari tujuh lantai turut membawa kekhawatiran di kalangan pedagang, khususnya pengecer pakaian dan konveksi. Mereka menilai penataan zonasi lantai akan menentukan keberlangsungan perputaran ekonomi harian di pasar tersebut.
Salah satu Pedagang konveksi Pasar Pagi, Jufriansyah, mengingatkan pemerintah kota agar tidak mengulangi kekeliruan teknis penataan yang pernah terjadi di pasar lain. Ia menekankan bahwa pengecer sangat bergantung pada arus pengunjung yang datang setiap hari.
“Kami lebih concern bagaimana pedagang eceran itu enggak di atas. Karena pedagang eceran sangat bergantung pada aliran calon pembeli. Di pasar tradisional, flow people itu sama dengan flow money. Aliran manusia sama dengan aliran uang,” ujar Jufriansyah.
Ia menjelaskan, desain awal penempatan pedagang di gedung baru semula memetakan area pengecer di lantai 3, 4, 5, dan sebagian lantai 6. Adapun lantai 6 dan 7 direncanakan sebagai area grosir. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan final tetap berada di tangan Pemerintah Kota Samarinda. “Semuanya kembali lagi pada kebijakan pemerintah kota,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan pembagian zonasi resmi gedung baru, lantai 1 dialokasikan untuk pedagang basah seperti ikan, daging, dan sayur. Lantai 2 untuk komoditas pertanian, lantai 3 hingga 4 untuk emas, perhiasan, dan aksesoris, serta lantai 5–7 untuk grosir pakaian dan perlengkapan rumah tangga.
Menurut Jufriansyah, memaksa pembeli berpindah ke lantai tinggi berpotensi menekan arus belanja. “Kalau pengecer tidak dialiri pembeli, otomatis tidak ada kemungkinan jadi cash flow. Petak itu bisa jadi satu-satunya milik mereka, satu-satunya sumber pendapatan mereka. Itu kehidupan mereka,” ucapnya.
Kekhawatiran tersebut juga diperkuat dengan menyoroti pengalaman Pasar Segiri sebagai contoh penataan cluster yang kurang matang. Ia menilai, pemisahan pedagang grosir dan eceran di lantai berbeda harus benar-benar dihitung berdasarkan pola arus manusia, bukan hanya berdasarkan pengelompokan barang.
Ia juga menyinggung pengalaman masa lalu saat relokasi Pasar Segiri, yang menurutnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. “Banyak pedagang yang usahanya meredup karena perputaran uang tidak sebaik sebelumnya. Jangan sampai itu terulang di Pasar Pagi, walau bangunannya megah,” tegasnya.
Ia berharap Dinas Perdagangan dan UPTD Pasar Pagi melakukan kajian menyeluruh sebelum memutuskan titik penempatan pedagang eceran. “Prinsipnya, Flow of People, Flow of Money. Tempatkan pedagang sesuai arus pengunjung, agar perputaran ekonomi tetap berjalan,” pungkasnya.
[RWT]
Related Posts
- Tongkang Tabrak Jembatan Mahulu, Polisi Periksa 8 Saksi
- Parkir Progresif Diterapkan di Pasar Pagi Samarinda, Dishub Kejar Rotasi Kendaraan dan Cegah Penumpukan
- Rencana Buka Prodi Baru Tak Mudah, Unikarta Terkendala SDM dan Infrastruktur
- Anggota DPRD Kaltim Adukan KSOP dan Pelindo Samarinda ke Ombudsman
- Dua Segmen Teras Samarinda Tahap II Molor, Dinas PUPR Terapkan Denda Harian









