Opini

Urgensi Kecerdasan Budaya dalam Bermedia Sosial di Tengah Masyarakat Multikultural

Oleh: Khansa Yumna Abiyyu (Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi 2020, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman) 

Di tengah pandemi Covid-19, berbagai upaya dilakukan pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus menular ini. Salah satunya ialah dikeluarkannya kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Diberlakukannya PPKM berakibat pada turunnya interaksi masyarakat secara langsung. Masyarakat harus beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru, guna tetap menjaga produktivitas dan bersosialisasi kala pandemi. 

Berdasarkan laporan We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna aktif media sosial Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan angka hingga 10 juta atau 6,3% dibandingkan tahun lalu. Di mana pengguna aktif media sosial mencapai angka 170 juta atau sekitar 61,8% dari total 274,9 juta jiwa.

Baca juga:  Beri Komentar Negatif di Media Sosial Terkait Laka Anggota Satpol PP, Seorang Pengacara Diamankan Polres Kukar

Peningkatan penggunaan media sosial di kala pandemi, membuktikan bahwa media sosial menjadi alternatif yang dipilih masyarakat guna memenuhi kebutuhan bersosialisasi dengan orang lain. Luasnya jangkauan media sosial mengakibatkan para pengguna media sosial dapat berinteraksi dengan orang lain dari berbagai latar belakang budaya. Hal tersebut menandakan bahwa sangat penting bagi masyarakat multikultural untuk memiliki kecerdasan dalam berbudaya, terutama dalam bermedia sosial di era new normal.

Kecerdasan budaya merujuk pada kemampuan individu dalam memahami, berpikir dan berperilaku secara efektif dalam situasi dimana terdapat perbedaan antar budaya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Earley dan Soon Ang (Widyarini, 2014) akibat adanya perkembangan kalangan bisnis global. Oleh Earley dan Ang, kecerdasan budaya meliputi beberapa faktor yakni pengetahuan, strategi, motivasi, dan perilaku.

Faktor pengetahuan berkaitan dengan wawasan individu terkait budaya dan perbedaan-perbedaan di antara yang lainnya. Faktor strategi berkaitan dengan kesadaran individu untuk mengembangkan dan mencari cara maupun aturan baru untuk berinteraksi.

Faktor motivasional merujuk pada kemampuan untuk menaruh perhatian dan energi untuk terlibat, serta belajar dan berfungsi dengan efektif dalam situasi di mana terdapat perbedaan budaya. Faktor terakhir, yakni faktor perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam menunjukkan perilakunya ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda budaya, baik verbal maupun nonverbal.

Menurut saya, penggunaan media sosial tanpa dibarengi dengan kecerdasan budaya tentu akan sangat berbahaya. Budaya merupakan cara hidup yang terus menerus berkembang dan merupakan milik sekelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyaknya budaya di Indonesia ditambah mudahnya berinteraksi dengan orang lain dengan menggunakan teknologi menjadikan kecerdasan budaya sangat penting bagi perkembangan bangsa dan negara.

Tanpa kecerdasan budaya, interaksi baik di media sosial maupun secara langsung, tidak akan terjadi secara efektif. Pengaplikasian kecerdasan budaya dalam keterampilan interpersonal akan membuat kita mampu melihat realitas perbedaan yang ada dalam diri kita dan orang lain. 

Seseorang dengan kecerdasan budaya yang tinggi, mampu berinteraksi lebih baik dengan orang lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Hal ini karena, seseorang dengan kecerdasan budaya akan bisa melihat pola-pola, nilai–nilai, dan perilaku orang lain, tanpa merasa terganggu oleh budaya tersebut. 

Media sosial menjadi sarana yang mampu meningkatkan kemampuan individu dalam memperoleh informasi. Layaknya pedang bermata dua, media sosial memiliki sisi negatif dan positif berkaitan dengan kecerdasan budaya.

Tidak jarang informasi yang disebarkan di media sosial menyebabkan kesalahpahaman, karena adanya perbedaan budaya dalam memahami isi pesan. Selain itu, banyak juga informasi yang sengaja digunakan guna memecah belah bangsa. Sebagaimana dalam penelitian Garretson (dalam Bhakti et al., 2018) isi dari pesan di media dapat mempengaruhi pemahaman seseorang tentang budaya tertentu. 

Baca juga:  Agama Saya Adalah Uang

Meskipun demikian, penelitian berjudul “Pengaruh Media Sosial Terhadap Pengalaman Multikultural dan Kecerdasan Budaya” oleh Bhakti dan kawan-kawan menemukan bahwa, penggunaan media sosial yang sifatnya informasional, dapat membantu peningkatan kecerdasan budaya individu. Konten-konten informasi positif terkait suatu budaya yang didapatkan dari internet akan membentuk pandangan dan pemahaman yang positif pula. 

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial dapat memengaruhi kecerdasan budaya seseorang. Oleh sebab itu, sebagai pengguna kita patut memilih dan menyaring berbagai informasi yang akan dikonsumsi. Selain itu, perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan guna mengurangi dampak negatif dari penggunaan media sosial dalam berinteraksi di tengah masyarakat multikultur.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker