Daerah

Akademisi Unmul Sebut Faktor Manusia Paling Dominan Pemicu Karhutla di Kaltim

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 25 Agustus 2026 16:23
Akademisi Unmul Sebut Faktor Manusia Paling Dominan Pemicu Karhutla di Kaltim
Akademisi Unmul mengungkapkan maraknya karhutla di Kalimantan disebabkan oleh manusia, Selasa (25/8/2026).

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali marak dan menyita perhatian publik. Kombinasi faktor kemarau panjang hingga ulah oknum yang membakar lahan menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang terdampak.

Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman (Unmul), Chandra Boer, menilai tindakan manusia yang membakar lahan secara brutal merupakan faktor paling dominan dari bencana ini.

"Faktornya dominan itu karena oknum yang sengaja membakar untuk pembukaan lahan, kemudian api tidak terkendali," ujar Chandra pada Selasa (25/8/2026).

Selain kesengajaan membakar, unsur kelalaian seperti buangan puntung rokok dan aktivitas manusia lainnya juga dapat menjadi pemicu yang berdampak fatal. Menurutnya, kondisi panas dan kering saja tidak serta-merta membuat hutan terbakar tanpa adanya sumber api pemicu.

Chandra mengakui bahwa kondisi iklim ekstrem dapat memperbesar risiko kebakaran. Kemarau panjang menyebabkan vegetasi kehilangan kadar air sehingga berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut dinilai semakin berbahaya karena sebagian kawasan hutan di Kalimantan telah mengalami kerusakan dan degradasi selama puluhan tahun.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan peristiwa El Nino pada rentang 1982-1983. Pada masa itu, musim kering berlangsung sangat panjang hingga hampir 10 bulan tanpa hujan di sejumlah wilayah Kalimantan.

"Meski kemarau saat ini memang belum separah kondisi pada beberapa tahun lalu, tetapi tetap perlu diantisipasi karena kekeringan selama dua hingga tiga bulan sudah cukup membuat vegetasi rentan terbakar," tambah Chandra.

Ia menegaskan bahwa langkah pencegahan dan pengawasan harus dilakukan secara intensif sebelum memasuki puncak musim kemarau. Setiap pengelola kawasan hutan diwajibkan memiliki tanggung jawab yang jelas, termasuk penyediaan peralatan dan pasukan pemadam kebakaran independen.

“Kalau sudah terjadi kebakaran biasanya memang tidak mungkin dipadamkan. Walaupun peralatannya canggih, di mana-mana kalau ada kebakaran besar itu hanya bisa diisolasi, diperkecil, jangan sampai terus membesar,” kata Chandra.

[TOS]



Berita Lainnya