PEMKAB BERAU

Karhutla Mengancam Kesehatan, ISPA Kini Jadi Penyakit Nomor Dua Terbanyak di Berau

Kaltim Today
03 September 2026 12:56
Karhutla Mengancam Kesehatan, ISPA Kini Jadi Penyakit Nomor Dua Terbanyak di Berau
Wabup Berau, Gamalis ketika berkunjung ke Puskesmas Tanjung Redeb memastikan efek kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. (Miko/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Berau - Wakil Bupati Berau, Gamalis, bertandang ke sejumlah Puskesmas untuk memastikan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kondisi kesehatan masyarakat, Kamis (3/9/2026).

Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa bulan terakhir.

Gamalis mengatakan, peningkatan kasus ISPA perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data yang ada, penyakit itu kini menempati posisi kedua kasus terbanyak setelah hipertensi atau tekanan darah tinggi.

“Terkait kasus ISPA ini harus kita hadapi. Sekarang menempati posisi kedua setelah hipertensi atau tekanan darah. Lonjakannya terjadi sejak Juni, Juli, hingga Agustus,” ujarnya.

Selain peningkatan kasus ISPA, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Gamalis menyebut pencemaran udara, termasuk di dalam ruangan, telah berada pada level yang mengkhawatirkan dengan kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh Total Suspended Particulate (TSP) atau total partikulat tersuspensi, yakni partikel padat maupun cair yang melayang di udara, seperti debu, asap, serbuk, hingga uap air, dengan ukuran mulai dari sangat kecil hingga sekitar 100 mikrometer.

“Di mana PM 2.5-nya juga cukup banyak dan berbahaya karena molekulnya tidak lagi dapat tersaring oleh bulu hidung dan bisa langsung masuk jauh ke dalam paru-paru serta menembus aliran darah,” jelas Gamalis.

Dampak kondisi tersebut mulai terlihat dari meningkatnya jumlah pasien ISPA di sejumlah fasilitas kesehatan.

Di Puskesmas Tanjung Redeb, misalnya, jumlah kasus tercatat mencapai 380 pasien. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan Juli yang berada di angka 190 kasus.

Sementara secara umum di Berau pada Agustus tercatat sudah 20.549 pasien terdampak ISPA. 

Dokter Umum Puskesmas Tanjung Redeb, Nina Damayanti Madjid, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan sejumlah langkah pencegahan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

“Sehingga perlu adanya tindakan pencegahan seperti penggunaan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika tidak terlalu penting,” ujarnya.

Menurut Nina, ISPA sangat rentan menyerang kelompok tertentu, seperti anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia. Risiko juga semakin tinggi bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma maupun alergi.

“Kebanyakan pasien yang kita tangani anak-anak,” tambahnya.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau juga telah mengeluarkan imbauan untuk menghentikan sementara aktivitas Posyandu di seluruh kecamatan. 

Kebijakan itu dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak dan ibu hamil, dari ancaman gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara dan meningkatnya kasus ISPA.

[MGN | ADV PEMKAB BERAU] 



Berita Lainnya