HeadlineKaltim

Pameran Seni Rupa dan Lukis Mbah Gengh di Taman Budaya Kaltim

Kaltimtoday.co, Samarinda – UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim menggelar pameran seni rupa serta seni lukis pada Kamis (15/10/2020). Sejauh mata memandang, nampak berbagai macam lukisan dengan beragam ukuran dan warna. Mulai lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, pemandangan alam, hingga identik dengan suku Dayak. Pameran dimulai sejak pukul 09.00 hingga 21.00 Wita di Taman Budaya Samarinda.

UPTD Taman Budaya memang sengaja mengundang beberapa pelukis. Ada 10 pelukis dari kalangan pelajar dan 6 pelukis profesional. Disampaikan Sugeng Hariyanto atau akrab disapa Mbah Gengh selaku salah satu pelukis yang berpartisipasi dalam pameran kali ini, UPTD Taman Budaya mengundang secara pribadi tiap pelukis yang lukisannya dipamerkan hari ini.

Lukisan Mbah Gengh yang berjudul Ikan Asin gambarkan perihal kesederhanaan melalui dua potong ikan asin.

Mbah Gengh menyebut dia dan kawan-kawan pelukis lain dihubungi sejak 5 hari yang lalu. Tema lukisan yang dipamerkan pun bebas, tidak ada tema khusus. Pameran ini juga sekaligus untuk mengangkat kreativitas pelukis muda yang masih bersekolah di tingkat SMP dan SMA dari Balikpapan.

Mbah Gengh menjelaskan bahwa pameran lukisan bagi penikmat seni, kolektor, dan kurator pasti akan begitu dinikmati. Menurut pantauannya, pameran yang dibuka sejak pagi untuk umum itu memang ramai dikunjungi. Walaupun tengah pandemi Covid-19 dan tetap perhatikan protokol kesehatan.

“Memandang lukisan apalagi di pameran itu enaknya saat suasana sepi. Jadi bisa dinikmati. Lukisan itu keindahan dan kenikmatan,” ungkap Mbah Gengh saat ditemui pada Kamis (15/10/2020).

Pameran seperti ini memang tidak terlalu rutin dilaksanakan. Tahun ini, hanya sekali digelar. Menurut Mbah Gengh pribadi, dia justru ingin pameran serupa bisa dilakukan selama 2-3 kali setahun. Agar bisa mengangkat kreativitas pelukis pemula dan mereka bisa punya wadah untuk memperlihatkan hasil karyanya.

Pelukis profesional dan yang masih sekolah berpartisipasi dalam pameran seni lukis UPTD Taman Budaya Disdikbud Kaltim.

Mbah Gengh sendiri memamerkan 4 lukisan di pameran ini. Dia pun menyampaikan bahwa kebanyakan lukisan yang dibuat menceritakan tentang kehidupan sehari-hari. Lukisannya yang berjudul Tukang Kayu dibuat pada 2019 lalu dan memakan waktu 3 bulan. Sedangkan lukisan berjudul Mata Dayak dan Kopi Dayak dibuat pada medio 2020 tadi dan pembuatan masing-masing lukisan itu selama 1 bulan. Satu lagi lukisannya yang menarik perhatian berjudul Ikan Asin. Saat ditanya apa filosofi dari lukisan tersebut, Mbah Gengh menjawab bahwa itu menunjukkan kesederhanaan hidup.

“Seni itu bukan untuk iseng-iseng. Itu profesi yang bagus dan menjanjikan. Jadi kalau misalkan sedang tidak sibuk dengan pekerjaan lain, akhirnya melukis untuk pribadi. Itu harus,” lanjutnya.

Mbah Gengh bukanlah pemain lama di dunia seni lukis. Pria berkacamata itu sudah jatuh cinta dengan kegiatan melukis sejak dirinya masih berusia 15 tahun. Awalnya dia belajar dari sang paman yang merupakan pembuat komik. Mbah Gengh pun mulai mengikuti. Kala itu dia sudah bisa mencari uang sendiri dengan membuat kartu lebaran zaman dulu yang digambar. Dari situlah dia mulai menekuni seni lukis.

Lukisan berjudul Mata Dayak (kiri) dan Kopi Dayak (kanan) dibuat Mbah Gengh dalam waktu 1 bulan.

Menurutnya, seniman zaman sekarang bisa menjadi pegangan hidup alias dijadikan profesi menjanjikan. Berkat keahlian melukisnya, Mbah Gengh bisa menyekolahkan kedua anaknya sampai meraih gelar sarjana. Dia pun mengingatkan bagi para pemula jika ada bakat melukis atau menggambar, jangan malu-malu untuk ditunjukkan. Mbah Gengh bercerita, dulu dirinya juga sempat ditekan oleh orangtua yang berprofesi sebagai serdadu atau tentara. Bahkan keinginannya yang ingin fokus melukis sempat dipertanyakan.

“Kamu itu gambar terus mau jadi apa?,” ujar Mbah Gengh sembari menirukan apa yang dilontarkan orangtuanya dulu.

“Saya sambil guyon itu bilang mau jadi presiden. Saat itu juga sempat didaftarkan jadi ABRI pada 1984. Pengin ada anaknya yang nurun jadi abdi negara. Tesnya 3 hari. Tapi saya 1 hari aja ikut tesnya dan 2 hari tidur di masjid. Enggak pulang,” kenang Mbah Gengh sembari tertawa.

Jelas saja Mbah Gengh ketahuan dan langsung dimarahi orangtuanya. Dia juga tak menampik kesalahannya itu. Saat itulah dia punya tekad bulat bahwa dengan melukis, dirinya bisa hidup. Namun pada 1990 sampai 2017 Mbah Gengh sempat disibukkan dengan beberapa kegiatan lain seperti reklame advertising dan vakum melukis. Barulah pada 2017 dia kembali berkecimpung di seni lukis. Diperlukan 1 tahun agar dia bisa kembali beradaptasi seperti semula. Mulai 2017 itulah, dia menghasilkan uang dari lukisan tanpa terkecuali.

Bicara soal bahan dan alat untuk melukis, Mbah Gengh mempunyai beberapa dengan kualitas yang beragam pula. Terutama cat. Menurutnya, cat menentukan kualitas warna dan kekuatan lukisan. Mbah Gengh menjamin lukisan yang dia buat bisa bertahan hingga 50 tahun lamanya. Dia juga lebih suka melukis di kanvas yang besar karena lebih leluasa. Sedangkan di kanvas kecil, kerumitannya lebih besar karena harus sangat detail.

Mbah Gengh menyebut tema lukisannya kerap berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya lukisan berjudul Tukang Kayu ini.

Beberapa bahan juga memengaruhi perawatan. Ada yang dasarnya cat air yang perawatannya beda dengan cat minyak. Perawatan lukisan yang menggunakan cat minyak paling sulit. Sebab rentan dengan suhu ruangan.

“Kalau terlalu lembab, akan berjamur. Kalau cat air tidak. Biasanya lukisan yang pakai cat air itu di bahan kertasnya robek. Cat akrilik juga berbahan dasar seperti cat air,” pungkas Mbah Gengh.

[YMD | TOS]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close