Opini

Peran Media sebagai Alat Diplomasi Digital dalam Memberitakan Gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat

Oleh: Santria Agusti (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia)

Seperti yang kita ketahui bahwa dunia sekarang tidak lepas dari yang namanya teknologi. Seperti dalam hubungan internasional, yang merupakan bagian dari ilmu sosial dan politik yang tentu saja dalam perkembangannya sangat berkaitan erat dengan teknologi informasi. Teknologi menjadi salah satu faktor dalam menciptakan hubungan antar negara.

Berkembangnya teknologi dan informasi mampu mengubah konstelasi politik di dunia. Di masa perang dunia, banyak sekali menggunakan diplomasi yang berkaitan dengan teknologi. Seperti digunakannya diplomasi militer, diplomasi nuklir, diplomasi teknologi dan masih banyak lagi diplomasi yang lain. Pada saat itu, perkembangan teknologi merupakan suatu faktor yang menyebabkan terjadinya revolusi industri yang kemudian dapat menciptakan tatanan politik internasional.

Baca juga:  Sosial Media sebagai Alat Diplomasi Digital Kemenlu Indonesia dalam Mengarungi Digitalisasi Dunia

Hal ini sejalan dengan pernyataan yang disuarakan oleh PBB, bahwa pemerintah akan sangat berpengaruh besar jika bekerja sama dengan para ilmuwan untuk membantu sebuah negara dalam dunia perpolitikan. Hal ini dibuktikan dengan kemunculan India dan Cina sebagai new emerging super power. Kedua negara ini diprediksi bahwa pada tahun 2025 yang akan menjadi negara yang perekonomiannya paling kuat. Sehingga dengan berkembangnya teknologi informasi ini, sangat berdampak terhadap hubungan internasional (Malik, 2016).

Pada artikel ini, penulis akan membahas peran dari media sebagai alat diplomasi digital dalam memberitakan gerakan black lives matter khususnya di Amerika. Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki sejarah kelam  terkait konflik yang rasial, sejak kurang berlangsung lebih 3 abad. Konflik yang terjadi di antara orang berkulit putih dan berkulit hitam. Kasusnya yaitu yang terjadi oleh orang berkulit hitam yang bernama George Floyd.

Kasus ini sangat menyita perhatian Amerika Serikat dan dunia bahkan media internasional seperti BBC dan CNN ikut berperan dalam menyebarkan informasi kasus ini. Hal ini dikarenakan masyarakat yang berkulit hitam sering mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh masyarakat berkulit putih yang dianggap lebih superior. Orang berkulit putih sulit untuk berbaur dengan orang-orang berkulit hitam yang ada di Amerika. Dimana, pada awalnya  kedatangan orang berkulit hitam ke Amerika hanyalah sebatas dijadikan budak, sehingga sampai sekarang orang-orang berkulit hitam dipandang rendah dan terjadinya kelas-kelas sosial (Banda, 2020).

Pembunuhan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Minneapolis, Amerika Serikat terhadap George Floyd dipicu dengan penangkapan yang dilakukan oleh seorang karyawan toko dengan melakukan tuduhan bahwa Floyd telah membeli rokok dengan uang $20 palsu dan kemudian karyawan tersebut menelepon 911. Pada tanggal 25 Mei 2020 Floyd ditangkap oleh polisi atas tuduhan tersebut.

Berdasarkan dari laporan bahwa Floyd ketika ditangkap oleh anggota polisi Minneapolis tidak membantah atau melawan sedikitpun, namun terlihat dari video Floyd disiksa oleh polisi tersebut dengan menaruh kakinya di leher Floyd selama 8 menit 46 detik dan hingga akhirnya nadi Floyd tidak berdenyut lagi (USD, 2020).

Kematian Floyd ini memicu munculnya gerakan demonstrasi seperti di Amerika Serikat, Selandia Baru dan Australia. Negara-negara yang melakukan demonstrasi menuntut keadilan dari kasus- kasus yang serupa. Begitupun dengan para politikus dan toko masyarakat ikut berpartisipasi dan bersatu dalam  melakukan demonstran untuk mengutuk pembunuhan yang dialami oleh George Floyd.

Bahkan aparat kepolisian ikut bergabung dalam aksi protes terhadap kematian Floyd. Aksi atau gerakan protes atas tindakan diskriminasi dan rasisme terhadap masyarakat berkulit hitam juga dilakukan di sosial media. Dimana, dalam sosial media seperti The Guardian, BBC, dan CNN yang melakukan kampanye dengan hastag BlackLivesMatter.

Secara sederhana, hastag dari gerakan ini bermakna bahwa nyawa kulit orang hitam itu berharga. Dimana gerakan yang dilakukan ini sangat berpengaruh dan membuka mata masyarakat di seluruh dunia untuk peduli terhadap tindakan rasisme dan diskriminasi (USD, 2020).

Di masa sekarang tentu saja perkembangan teknologi yang semakin pesat dan canggih. Sehingga media pun sangat berperan dalam menggiring opini yang ada di masyarakat. Cara penyampaian berita dari media juga memperlihatkan bagaimana suatu kasus atau isu bisa terjadi dan pandangan media dalam mempengaruhi masyarakat (Andrianti, 2015). Seperti pada kasus pembunuhan George Floyd yang memicu adanya gerakan BlackLivesMatter banyak media yang memberitakan. Baik dari perihal penyebab ataupun pro dan kontra terhadap kasus yang terjadi.

Dengan demikian, melalui media-media berita mengenai gerakan black lives matter yang terjadi di Amerika ini menyebar dengan cepat sehingga dapat diketahui oleh masyarakat di seluruh dunia. Namun, dengan pesatnya perkembangan teknologi tentu saja ada sisi negatifnya juga seperti banyaknya bermunculan berita-berita bohong atau yang biasa dikenal dengan hoaks. Sehingga masyarakat juga harus pandai dalam menelaah ketika menerima suatu informasi yang disebarkan melalui media. Karena tidak dapat dipungkiri terkadang media juga sering melebih-lebihkan berita atau informasi.

Baca juga:  22 November hingga 5 Desember 2020, KPU Samarinda Siap Tayangkan Iklan Kampanye Paslon di Berbagai Media

Kemudian tidak dapat dipungkiri juga kalau media memang terkadang memihak kaum elit. Di balik semua itu, tentu saja ada pihak elit di belakangnya. Karena tidak serta merta berita yang diberikan oleh media itu merupakan perintah dari pihak pemerintah juga. Hal ini kemudian bisa saja mempengaruhi masyarakat untuk membuka mata bahwa masyarakat berkulit hitam itu nyawanya juga “berarti” melalui pemberitaan tentang Black Lives Matter. Bahkan, bisa mempengaruhi masyarakat memandang bahwa memang gerakan yang dilakukan tersebut salah.

Sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi informasi sangat berpengaruh dengan segala aspek kehidupan masyarakat dunia. Oleh karena itu, sebagai alat diplomasi digital media harus bijak dalam menyebarkan informasi supaya tidak menimbulkan stigma-stigma negatif dari masyarakat.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Referensi

Andrianti, N. (2015). Peran Media Massa Nasional dalam Politik Internasional. Kajian Ilmu Komunikasi , Vol 45.

Banda, O. (2020). Diskriminasi Ras dan Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis , Vol 5, 120-133.

Malik, M. (2016, November 10). Tekno Politik: Peran Teknologi Terhadap Hubungan Antar Negara.

USD, K. S. (2020). #BlackLivesMatter! Lawan Rasisme dan Diskriminasi.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close