Daerah

Kebakaran Rambat ke Kawasan Rehabilitasi, 11 Orangutan di Samboja Dievakuasi dalam Dua Jam

Kaltim Today
04 September 2026 17:59
Kebakaran Rambat ke Kawasan Rehabilitasi, 11 Orangutan di Samboja Dievakuasi dalam Dua Jam
Orang utan yang dievakuasi dari sekolah hutan Jejak Pulang kini menempati kandang evakuasi. (Doc: Jejak Pulang)

Kaltimtoday.co, Kutai Kartanegara - Kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja pada Selasa, 1 September 2026. Api yang berasal dari Area Penggunaan Lain (APL) di luar kawasan menjalar hingga menembus perimeter pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola Yayasan Jejak Pulang. Sebanyak 11 individu orangutan yatim piatu berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa, berkat rangkaian mitigasi yang sudah disiapkan sejak pertengahan tahun.

Patroli rutin tim Jejak Pulang pada pagi hari tidak menemukan tanda ancaman berarti, hanya sisa bara kecil di luar batas kawasan. Situasi berubah sekitar pukul 12.30 WITA, ketika titik api mulai membesar di lahan APL yang berbatasan langsung dengan KHDTK. Dua jam berikutnya, kobaran api meluas dan upaya pemadaman awal oleh tim internal tidak banyak membantu karena tiupan angin kencang mengarahkan api semakin dekat ke kawasan rehabilitasi.

General Manager Yayasan Jejak Pulang, Rahmat Novirsal, menggambarkan cepatnya eskalasi api pada hari itu.

"Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus itu mulai terancam hari Selasa itu dengan api yang sebesar badannya saya, berawal dari APL. Pagi kemarin belum ada informasi, artinya belum ada yang mengancam. Kita selalu melakukan pengawasan patroli tiga kali sehari. Pagi tidak ada. Nah, pada jam sekitar setengah satu itu mulai terlihat ada kebakaran di area APL," ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Pukul 16.00 WITA, api melompati batas APL dan resmi masuk ke wilayah KHDTK. Status darurat langsung diaktifkan, dan tim penjaga satwa (animal keeper) segera mengarahkan orangutan keluar dari area Sekolah Hutan menuju jalur evakuasi di tepi sungai.

Kondisi kesehatan 11 orang utan yang telah dievakuasi tetap baik meski sementara tinggal di dalam kandang. 

"Api mulai berkobar dari jam 2 dan bertambah. Sebelum Manggala Agni datang, kita sudah melakukan mitigasi api, cuma tidak cukup kuat karena angin sangat kencang saat itu. Jam 4 sore terjadi kebakaran sangat hebat di mana api melompat dari area APL ke KHDTK," kata Rahmat.

Proses evakuasi berlangsung antara pukul 16.00 hingga 18.00 WITA, melibatkan kendaraan dan personel dari Jejak Pulang serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Wildlife Rescue Unit. Seluruh 11 orangutan berhasil dipindahkan secara bertahap ke kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja. Sekitar pukul 18.30 WITA, tim Manggala Agni bersama satuan pemadam gabungan menuntaskan pemadaman di seluruh area KHDTK.

"Alhamdulillah, puji syukur bahwa Manggala Agni langsung melakukan pemadaman langsung pada saat itu, dan butuh waktu sampai sekitar jam setengah 7 baru benar-benar habis. Karena sangat membahayakan dan angin semakin lebar, perintah dari pimpinan Jejak Pulang dan penanggung jawab orangutan adalah evakuasi satwa segera," tutur Rahmat.

Rahmat menegaskan bahwa, langkah kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum api muncul, sejak pihaknya berkoordinasi dengan Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) mengantisipasi musim kemarau panjang akibat El Niño.

"Kesiapsiagaan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Juni. Saat P2HB datang, kita sudah berkolaborasi untuk kesiapsiagaan karena El Niño akan sangat panjang. Ini diantisipasi semenjak 16 Juni. Terbukti bahwa kita bisa melakukannya," ujarnya.

Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, menjelaskan bahwa Sekolah Hutan menempati sekitar 130 hektare dari total 3.500 hektare kawasan KHDTK Samboja, yang menjadi pusat rehabilitasi orangutan yatim piatu binaan yayasan.

"Saat menerima informasi ancaman kebakaran, kami segera mengaktifkan status emergensi di Tim Orangutan dan menginstruksikan seluruh penjaga untuk membawa orangutan ke area aman," katanya.

Ia menambahkan, jalur evakuasi ke arah sungai sudah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelum kejadian. Sebab lokasinya dekat dengan sumber air dan pintu keluar Sekolah Hutan.

"Karena ancaman kebakaran ini sudah ada dari jauh hari, dari hari sebelumnya kami sudah menginstruksikan para penjaga untuk datang mendekat ke arah sungai karena dingin dan banyak air. Sungai itu juga lebih dekat ke arah pintu keluar Sekolah Hutan, jadi ketika evakuasi dibutuhkan, mereka bisa keluar dengan cepat," ujar Siti.

Koordinasi lintas divisi turut menjadi kunci kelancaran evakuasi. Tim logistik menyiapkan kendaraan siaga, sementara Wildlife Rescue Unit BKSDA Kaltim membantu armada dan tenaga tambahan di lapangan.

"Setelah status emergency diaktifkan, kami menginstruksikan penjaga membawa orangutan keluar pelan-pelan. Kami berkoordinasi dengan supporting department seperti driver dan logistik untuk menyiapkan mobil standby, serta bekerja sama dengan WRU BKSDA Kaltim yang sangat membantu kendaraan dan tenaga," jelas Siti.

Tantangan Setelah Evakuasi

Keberhasilan evakuasi fisik tidak serta-merta menghilangkan persoalan. Perpindahan mendadak dari ruang terbuka Sekolah Hutan ke kandang evakuasi yang jauh lebih sempit memunculkan perubahan perilaku pada sebagian orangutan.

"Perilaku orangutan di dalam kandang saat ini terlihat bosan karena ruang gerak terbatas dan tidak mendapatkan pakan hutan sebanyak biasanya. Di hutan mereka bisa mengayun antar kanopi menggunakan liana dan bermain bersama temannya. Di kandang mereka hanya mendapat perawatan maksimal dari manusia, tapi tentu tidak cukup," kata Siti.

Untuk menekan dampak stres tersebut, tim Jejak Pulang tetap menjalankan program pengayaan atau enrichment selama masa observasi.

"Proses rehabilitasi tidak terganggu karena kami tetap memberikan enrichment (pengayaan) yang menstimulasi kognisi dan fisik mereka. Di dalam kandang kami membuat furniture yang memimik situasi hutan, seperti memasang tali yang biasa mereka gunakan untuk mengayun," ujarnya.

Dokter hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, memastikan kondisi kesehatan ke-11 orangutan tergolong baik sejauh masa observasi berlangsung.

"Kondisi 11 orangutan di Yayasan Jejak Pulang saat ini baik dan normal. Kami saat ini masih dalam kegiatan observasi, kemungkinan lebih dari satu hari. Saat ini belum ada tanda-tanda gejala flu atau gejala akibat karhutla, namun kami terus dalam proses observasi mereka di dalam kandang," katanya.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, mengawal penuh proses evakuasi itu. Dia menyatakan pihaknya langsung menindaklanjuti laporan kebakaran di sekitar pusat rehabilitasi begitu informasi diterima, dan keputusan evakuasi diambil bersama demi keselamatan satwa.

"Informasi terkait kejadian karhutla di sekitar pusat rehabilitasi orangutan Yayasan Jejak Pulang langsung kami tindak lanjuti. Hasil kesepakatan bersama menetapkan bahwa 11 individu orangutan yang sedang direhabilitasi harus segera dievakuasi ke tempat aman. Ini pilihan paling tepat menyangkut kesejahteraan dan keselamatan satwa, terutama perkembangan rehabilitasi yang sudah berlangsung," ujarnya.

Ari mengapresiasi kerja sama antara BKSDA dan Jejak Pulang selama proses evakuasi, sekaligus memastikan hasil pemeriksaan terhadap satwa yang dievakuasi.

"Kami mengapresiasi kerja sama antara kami dan Jejak Pulang dalam evakuasi ini. Dari hasil pemeriksaan, 11 individu orangutan dalam kondisi sehat dan aman. Walau ada keterbatasan sarana, pemantauan tetap dilakukan secara ketat oleh tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim," katanya.

Hingga observasi pascabencana ini berlangsung, tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim terus memantau kondisi ke-11 orangutan secara berkala, sembari menunggu situasi kawasan KHDTK Samboja benar-benar pulih agar proses rehabilitasi dapat kembali berjalan seperti sedia kala. 

[RWT] 



Berita Lainnya