Internasional
Rusia Klaim 24 Orang Tewas akibat Serangan Drone Ukraina di Kherson, Di Tengah Klaim Perdamaian 90 Persen Siap
Kaltimtoday.co - Rusia menuduh Ukraina melakukan serangan drone mematikan yang menewaskan 24 orang dan melukai sedikitnya 50 lainnya di sebuah desa yang dikuasai Rusia di wilayah Kherson saat warga merayakan Tahun Baru. Insiden ini terjadi ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat, meski para diplomat menyebut pembicaraan damai belakangan ini berlangsung produktif.
Pemimpin wilayah Kherson yang ditunjuk Moskow, Vladimir Saldo, mengatakan tiga drone menghantam sebuah kafe dan hotel di kota resor Khorly di pesisir Laut Hitam. Ia menyebut salah satu drone membawa bahan pembakar yang memicu kebakaran hebat. Klaim serangan tersebut belum dikomentari pejabat Ukraina dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Sejumlah pejabat Rusia mengecam serangan itu. Ketua Majelis Tinggi Parlemen Rusia, Valentina Matviyenko, mengatakan insiden tersebut “menguatkan” tekad Moskow untuk segera mencapai tujuan militernya dalam invasi yang hampir memasuki tahun keempat. Menurut Matviyenko, serangan itu “kembali menunjukkan kebenaran tuntutan awal” Rusia terhadap Ukraina.
Klaim Serangan ke Kediaman Putin
Tuduhan soal serangan di Khorly muncul setelah Moskow sebelumnya mengklaim Ukraina melancarkan serangan drone jarak jauh terhadap salah satu kediaman resmi Presiden Vladimir Putin di Rusia barat laut. Kyiv menyebut tuduhan itu sebagai “kebohongan” dan menyatakan Rusia tengah mencari alasan untuk merusak proses perundingan.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan para ahli berhasil mengakses sistem navigasi salah satu drone yang diklaim digunakan dalam serangan itu dan menyimpulkan bahwa kediaman Putin menjadi tujuan akhirnya. Namun, kementerian tidak mempublikasikan bukti teknis dan menyatakan hanya akan menyerahkan data tersebut ke pihak AS “melalui saluran yang telah ada.”
Pada Rabu, Kementerian Pertahanan juga merilis video drone yang diklaim ditembak jatuh. Rekaman malam hari itu menunjukkan seorang pria berseragam loreng dengan helm dan rompi antipeluru berdiri di dekat drone rusak di atas salju, namun tidak ada lokasi dan tanggal yang diungkapkan, dan klaim itu tidak bisa diverifikasi.
Kyiv menyebut tuduhan serangan terhadap kediaman Putin sebagai manuver untuk menggagalkan pembicaraan damai yang dalam beberapa pekan terakhir semakin intensif di kedua sisi Atlantik.
Zelensky: Kesepakatan Damai “90% Siap”
Dalam pidato Tahun Baru, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang sudah “90% siap.” Ia menegaskan, sisa 10% akan “menentukan nasib perdamaian, nasib Ukraina dan Eropa, serta bagaimana orang akan hidup.”
Zelensky menolak gagasan “damai dengan harga berapa pun” dan menegaskan Ukraina tidak akan menerima kesepakatan yang mengorbankan wilayah atau kedaulatannya. Isu-isu krusial yang belum tuntas diyakini mencakup status wilayah, jaminan keamanan jangka panjang, dan mekanisme untuk mencegah agresi ulang Rusia.
Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, mengatakan dirinya bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan penasihat Trump, Jared Kushner, telah menggelar “pembicaraan produktif” dengan penasihat keamanan nasional Inggris, Prancis, Jerman, serta Ukraina untuk membahas langkah lanjutan proses perdamaian Eropa. Menurut Witkoff, diskusi berfokus pada penguatan jaminan keamanan dan pengembangan mekanisme pencegahan konflik untuk mengakhiri perang dan memastikan konflik tidak kembali pecah.
Ketua tim negosiator Ukraina, Rustem Umerov, juga menegaskan pejabat Ukraina dan Eropa berencana bertemu pada Sabtu, sementara Zelensky dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan para pemimpin Eropa pekan depan.
Tekanan di Jalur Nuklir dan Serangan ke Odesa
Di jalur diplomatik lain, Kyiv terus mendesak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengambil tindakan terhadap Rusia terkait dugaan serangan terhadap infrastruktur listrik yang dinilai “krusial bagi keselamatan dan keamanan nuklir” di fasilitas tenaga nuklir Ukraina.
Dalam dokumen Note Verbale yang dipublikasikan Selasa, Ukraina melaporkan bahwa serangan drone dan rudal Rusia pada 23 Desember menyebabkan sejumlah pembangkit nuklir kehilangan “sebagian signifikan” koneksi daya eksternal mereka. Kondisi ini dipandang sensitif karena pasokan listrik luar menjadi salah satu prasyarat penting bagi sistem keselamatan reaktor.
Sementara itu, militer Rusia kembali menggempur wilayah Odesa pada malam Tahun Baru. Kepala administrasi regional, Oleh Kiper, mengatakan serangan dilancarkan dalam beberapa gelombang drone yang menyasar infrastruktur sipil; sebuah bangunan hunian dua lantai rusak, dan satu drone menghantam apartemen di lantai 17 gedung bertingkat tanpa meledak. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari serangan tersebut.
Dalam laporan hariannya, Angkatan Udara Ukraina menyebut pertahanan udara berhasil menembak jatuh atau menetralisir 176 dari total 205 drone yang menyerang berbagai wilayah Ukraina dalam semalam. Sebanyak 24 drone berhasil menghantam 15 lokasi berbeda, dan serangan disebut masih berlangsung saat laporan itu dirilis.
[TOS | AP]
Related Posts
- Durasi Puasa Paling Singkat di Dunia, Hanya 1 Jam di Kota Ini!
- HTS Pastikan Perdana Menteri Mohammed al-Jalali Tetap Pimpin Pemerintahan Sementara Pasca Jatuhnya Rezim Assad
- Kekuasaan Bashar Assad Berakhir di Suriah: Pejuang Oposisi Kuasai Homs dan Damaskus Tanpa Perlawanan
- Rusia Tetap Terima Miliaran Dolar dan Euro Meski Hadapi Sanksi Barat
- Konflik Tak Kunjung Mereda, Jumlah Korban Tewas Perang di Ukraina Terus Bertambah









