Bontang

Karena Bontang Bukan Cuma Pabrik

Bagaimana Ino dan Ali dari Healing in Bontang memperkenalkan sisi lain Bontang yang selama ini dikenal sebagai "Kota Industri" melalui konservasi dan pariwisata. 

Fitriwahyuningsih — Kaltim Today 13 Juni 2026 18:11
Karena Bontang Bukan Cuma Pabrik
Pulau Beras Basah dari ketinggian. (Istimewa).

BECAK MOTOR beroda tiga itu menghadirkan bunyi gemeretak ketika membelah jalanan kampung atas laut Bontang Kuala (BK) yang semuanya terbuat dari kayu ulin. 

Di atas bentor itu, ada saya dan sejumlah kawan yang kegirangan bak bocah 5 tahun. Waktu itu, kami memang ke BK untuk liputan jembatan rusak.

Pengalaman itu saya dokumentasikan dalam video singkat berdurasi belasan detik di Instagram story. 

Tak lama, seorang kawan dari Padang, Lina, membalas story itu:

''Aku juga mau naik ini (bentor),'' katanya. 

''Sini ke Bontang'' jawab saya sekenanya, sembari menambah emotikon tertawa.

Padahal dalam hati saya tidak pernah benar-benar merekomendasikan siapa pun ke Bontang. Bukan karena kota ini buruk. Oh, saya cinta sekali kota ini sampai ke sum-sum tulang. 

Tapi ada persoalan cukup krusial, setidaknya bagi saya, ketika mau bawa kawan ke kota ini: mau dibawa ke mana saja mereka selama di Bontang?

Saya lahir dan besar di Bontang. Tapi kalau mau jujur, saya tak pernah tahu mau membawa orang ke mana ketika berkunjung ke kota ini. Bontang Kuala, itu sudah pasti. 

Ia paling mudah dan murah diakses. 

Tapi setelah itu? saya bingung. 

Saya makin 'ogah' membawa orang ke kota ini karena tak habis pikir ketika kakak kawan saya yang datang dari Makassar bilang Bontang kota yang tidak ada ''apa-apanya.'' Itu terjadi ketika saya SMK, tahun 2015. 

Orang-orang bahkan suka berkelakar bahwa Bontang bisa tamat dijelajahi hanya dalam setengah hari. Anak sini bilang bisa kelar pulang-hari: pagi dijelajahi, sore sudah bisa kembali ke kota asal.

Namun, persepsi saya soal Bontang yang agak "madesu" dalam pariwisata barangkali sedikit berubah setelah berbincang dengan dua anak muda energik; Ino dan Ali dari Healing in Bontang. Satu setengah tahun bergerak di bisnis pariwisata, bukannya lesu, mereka justru menunjukkan angka-angka yang menggairahkan. 

Mereka bisa buat orang datang ke Bontang. Biar saya perjelas: berwisata ke Bontang. Bukan buat kerja di pabrik.

Terletak sekitar 135 kilometer dari Samarinda, Bontang dikena sebagai kota industri di Kalimantan Timur. Dua perusahaan besar yang berbasis di Bontang di antaranya PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Badak LNG. (Istimewa)

Wisatawan itu datang dari Samarinda. Balikpapan. Kutai Timur. Beberapa bahkan turis mancanegara. 

Memang masih didominasi daerah tetangga, tapi alasan ke Bontang untuk ''berwisata'' adalah sesuatu yang sulit terpikirkan sebelumnya. 

Dari mulanya hanya membawa 3 wisatawan, yang bikin mereka boncos di awal. Kini bisa tembus ratusan bahkan ribuan wisatawan di momen tertentu. 

Itulah yang membuat saya penasaran. Bukan cuma jumlah wisatawan yang mereka bawa. Tapi bagaimana dua anak muda ini bisa melihat sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal saya lihat di kota tempat saya lahir sendiri.

''Oke juga nih anak Lok Tuan,'' kata saya dalam hati. Lok Tuan adalah salah satu kawasan pesisir di utara Bontang. 

Semua Bermula dari Konservasi

SIANG ITU, di Kampung Nelayan Selambai, Lok Tuan, Kelurahan Lok Tuan, Bontang Utara, angin laut bertiup menghantam wajahnya. Aroma garam bercampur lumpur dari perairan yang surut ikut melebur dalam hembusan angin laut. 

Di kampung pesisir itulah Suryani Ino, yang selama ini cukup dikenal sebagai anak muda pegiat lingkungan, berbincang dengan seorang nelayan bernama Juman di Selambai. 

Percakapan mereka sederhana. Nelayan itu ingin kampungnya lebih dikenal publik, khususnya warga Bontang. 

Nama kampung itu ''Kampung Salona.''

Publik, khususnya mereka yang bermukim di Lok Tuang barangkali lebih mengenalnya dengan nama BTN Terapung. Padahal kawasan itu aslinya bernama Kampung Salona. Nama itu seolah lenyap dari ingatan publik usai kebakaran hebat yang melanda kawasan itu bertahun lalu. 

''Bahkan orang Lok Tuan (salah satu kelurahan di Kecamatan Bontang Utara) sendiri banyak tidak tahu Kampung Salona. Padahal posisinya ada di Selambai ujung,'' beber Ino. 

Percakapan itu terjadi sekitar 2021. Ino, yang kala itu masih berusia 20-an awal, tak butuh pikir panjang mengeksekusi keinginan tersebut. Memanfaatkan aset utama nelayan, kapal, mereka mengaktifkan kapal telusur Salona.

Promosi wisata ini sederhana, hanya melalui media sosial Instagram. Namun respon publik cukup baik. 

Saban sore, mereka memberangkatkan sekitar 15 wisatawan untuk berkeliling sekitar perairan Lok Tuan. Tarifnya Rp35 ribu hingga Rp50 ribu sekali perjalanan. Dengan titik awal pemberangkatan di Kampung Salona atau BTN Terapung.

''Jalan tuh tiap sore, kami bawa wisatawan," beber perempuan kelahiran Bontang ini. 

Wisata telusur Salona ini cukup menarik wisatawan lokal. Aktivitas ini bukan cuma memberi manfaat ekonomi bagi nelayan pemilik kapal. Pun warga setempat yang menjual makanan dan minuman. 

Namun setelah dua tahun beroperasi, hari-hari manis bisnis wisata telusur ini menemui ujungnya.

Tampilan kapal sudah tak menarik-- catnya luntur, tidak 'estetik' menurut versi Ino. Mesinnya sering bermasalah. Badan kapal yang terbuat dari kayu mulai rontok dimakan usia. 

Bagi Ino dan nelayan yang terlibat di aktivitas ini, keamanan dan kenyamanan wisatawan adalah yang utama. 

''Setelah dua tahun (2021-2023) kapal yang kami pakai berlayar rusak. Sudah enggak layak lah dipakai wisata,'' jelasnya.

Usaha kapal telusur itu memang tumbang, namun relasi baik antara Ino dan nelayan terus terjaga. Bahkan makin akrab. 

Dari berbagai obrolan yang terjadi antara mereka, Ino mendapat informasi bahwa kondisi perairan Bontang rupanya tak baik-baik saja. 

Masih banyak oknum nelayan gunakan metode tangkap ikan bermasalah, yakni dengan bom. Akibatnya tidak main-main. Terumbu karang banyak yang rusak dan hancur. 

Kerusakan terumbu karang ini punya konsekuensi besar bagi masa depan maritim Bontang. Sebab terumbu karang sejatinya merupakan rumah dan tempat berkembang biak bagi berbagai biota laut. Bila ia rusak, praktis jumlah tangkapan nelayan terancam berkurang. Atau bila ingin meraih tangkapan lebih banyak, nelayan mesti berlayar bermil-mil jauhnya dari bibir pantai. 

Bagi Ino, semua ini adalah hal baru. 

''Dari situ, aku diajak nelayan ikut kegiatan konservasi terumbu karang. Ini sesuatu yang baru buat aku. Jadi dari anak (pegiat) lingkungan yang fokus di sampah, aku geser ke hutan, ke konservasi laut dan wisata,'' ungkapnya. 

Konservasi terumbu karang ini dilakukan oleh Kelompok Nelayan Kimasea sejak 2018 dengan dukungan PT Pupuk Kalimantan Timur. Belakangan Ino mulai sering ikut dalam aktivitas konservasi.

Aktivitas itu turut didokumentasikan dalam akun Instagram pribadinya. Ini sebagai bentuk edukasi publik soal pentingnya menjaga ekosistem laut.

Titik utama konservasi terumbu karang mereka lakukan di Tombok Batang. Ia terletak di antara Pulau Kedindingan-- sebuah pulau tanpa penduduk yang dipenuhi mangrove-- dan Pulau Segajah-- sebuah dataran kecil yang ketika air pasang ia tenggelam, dan ketika surut ia baru terlihat.

Aktivitas konservasi itu  menghadirkan kesadaran baru bagi Ino. 

Laut Bontang rupanya tengah menghadapi tantangan tidak sepele. Banyak warga menggantungkan hidup dari laut, tetapi kondisi ekosistemnya terus terancam.

Kasus pengeboman di laut, menurut keterangan nelayan yang Ino temui, bisa diminimalisir bila laut ramai. Sebab aktivitas itu biasa dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab secara diam-diam. 

Pada saat yang sama, ia juga menemukan hal lain yang selama ini luput dari perhatiannya. Maritim Bontang ternyata sangat indah.

Hamparan mangrove, gugusan pulau-pulau kecil berpasir putih, perairan berwarna kehijauan yang membentang sejauh mata memandang.

Semua ini akrab bagi nelayan. Semua ini menyimpan pengalaman yang menarik bagi orang luar.

Sayangnya, keindahan itu nyaris tidak pernah diceritakan. 

Dari titik itulah Healing in Bontang lahir akhir 2023. Bukan semata-mata sebagai bisnis wisata. Melainkan sebagai cara memperkenalkan wajah lain Bontang yang selama ini jarang dilihat orang. Juga, untuk mempersempit ruang gerak oknum pengebom ikan dengan meramaikan laut.

''Akhirnya Healing in Bontang ini aku bentuk memang untuk meramaikan laut. Karena ketika laut ramai, para pengebom itu akan takut,'' kata Ino.

''Terus yang kedua misi kami adalah untuk mentransplantasi kembali terumbu karang. Jadi dari kami membuka wisata ini, yang di dalamnya (paket wisatanya) ada snorkeling, harapannya dari hasil yang kami kerjakan itu bisa kami kembalikan ke lautan.''

Tumbuh dalam Keterbatasan

INO INGAT betul ketika awal merintis Healing in Bontang, ia bahkan sempat hanya membawa 3 wisatawan dari Pelabuhan Tanjung Laut ke Pulau Beras Basah. Pemberangkatan ini, kata dia, secara hitung-hitungan bisnis rugi karena pendapatan dari tiga wisatawan tak bisa menutupi biaya sewa kapal. Saat itu Healing in Bontang belum memiliki kapal sendiri. 

Kondisi ''boncos'' ini beberapa kali dialami Ino ketika awal merintis bisnis. Tapi ia memilih terus melangkah. Sebab ia berkeyakinan binisnya ini akan berkembang dan wisata maritim Bontang memiliki prospek.

''Aku jalan saja waktu itu walau hitungannya rugi. Jadi, misalnya aku cuma dapat 5 tamu, yaudah aku telepon (pemilik) kapal. Kami berangkat. Pokoknya tiap minggu harus jalan, bahkan walau cuma satu yang dibawa. Rugi atau untung tetap jalan. Yang penting tamu kami tidak kecewa,'' kenangnya. 

Seiring waktu, bisnis wisata yang dirintisnya mulai menarik perhatian publik. 

Founder Healing in Bontang, Suryani Ino. (Fitri Wahyuningsih/Kaltim Today).

Pelan-pelan jumlah tamu yang dibawa ke Pulau Beras Basah mengalami peningkatan. Semua ini, kata dia, tak lain karena ia cukup gencar memasarkannya di media sosial, khususnya Instagram. Dia rajin mengunggah konten wisata di sana. 

Peningkatan ini, kemudian diiringi dengan penambahan kru di Healing in Bontang. Ino mulai bisa mempekerjakan secara paruh waktu beberapa pemandu wisata. Sebagian besar adalah anak muda pesisir, sebab mereka paham lingkungan sekitar serta bisa berenang dan menyelam. 

Di titik ini, ketika Healing in Bontang mulai menarik perhatian, Ali masuk. Kehadiran Ali membuat Healing in Bontang yang mulanya dijalankan sekadarnya, jadi lebih tertata dari sisi bisnis. Dia memperbaiki dari sisi administrasi dan menyusun standar operasional prosedur (SOP). 

Mulanya, kata Ali, catatan pengeluaran dan pemasukan Healing in Bontang tidak rapi. Data tamu tidak jelas. Pemandu wisata tidak punya standar kerja yang paten. 

Yang terakhir ini jadi cukup fatal dalam bisnis yang mereka jalankan. Pasalnya bila tamu merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan pelayanan travel organizer seperti mereka, ini bisa berdampak buruk. Sebab nyawa bisnis pariwisata ada di layanan. Ulasan kurang baik dari wisatawan juga bisa mempengaruhi bisnis. 

''Aku, kan, basic-nya memang di bisnis. Jadi ketika datang, yang pertama aku rapikan itu aspek bisnisnya. Jadi karyawan yang bermasalah, kami cut dulu. Habis itu margin profit kami atur biar bagus. Terus cash flow juga kami atur. Berkembang, berkembang terus, baru aset kami tambah, kami beli kapal sendiri,'' urai pria berkacamata ini. 

Setelah berbulan-bulan membawa tamu ke Pulau Beras Basah saban pekan, belakangan hadir permintaan agar destinasi wisata yang dikunjungi ditambah.

Ino dan Ali mempertimbangkan usulan itu. Setelah melakukan riset dan melihat kesanggupan tim, akhirnya mereka menambahkan destinasi baru: Pulau Segajah dan Pondok Pasilan. 

Pemilihan dua lokasi ini bukan tanpa alasan. Pertama, Pulau Segajah. Pulau ini dipilih karena menawarkan keunikan alam. Ia hanya bisa dikunjungi saat laut surut, dan seketika seluruh daratannya hilang ketika air laut pasang. Hamparan pasir putih yang lembut membuatnya tampak memesona, terlebih saat diabadikan melalui lensa kamera.

Kemudian Pondok Pasilan. Ia merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan bawah laut Bontang. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan terumbu karang berwarna-warni dan beragam biota laut yang hidup di dalamnya. Lebih dari itu, mereka juga diajak melihat langsung upaya para nelayan setempat dalam memulihkan ekosistem terumbu karang yang sempat mengalami kerusakan.

Kedua kawasan itu juga dipilih, sebab Ino dan Ali tetap ingin menjalankan bisnisnya yang selaras dengan keberlangsungan lingkungan. Dalam setiap perjalanan wisata, mereka menyisipkan edukasi ke wisatawan soal pentingnya menjaga ekosistem laut dan menjelaskan arti penting pulau-pulau itu untuk Bontang. 

Bukan sekadar menambah destinasi wisata, keduanya juga memastikan layanan Healing in Bontang meningkat. 

Seluruh kru, khususnya pemandu wisata, dilatih bagaimana cara memperlakukan tamu dengan baik. Termasuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. 

Mereka dilatih kemampuan dasar mengambil gambar yang baik di bawah laut dan darat serta menerbangkan drone-- sebab memberikan dokumentasi adalah bagian dari paket layanan mereka. 

Safety briefing dilakukan pemandu wisata Healing in Bontang sebelum perjalanan wisata dilakukan. Stretching ringan pun dilakukan sebelum keberangkatan. Ini untuk meminimalisir potensi keram ketiaka berenang atau menyelam di laut. (Istimewa)

Mereka juga menggunakan chatbot AI untuk mempercepat layanan pelanggan. Jadi ketika ada yang bertanya di nomor WhatsApp Healing in Bontang, pertanyaan bisa segera direspon.

Selain itu, yang tak kalah penting, bagaimana mereka memanfaatkan medsos dan mau berinvestasi di sana. 

Ino dan Ali sadar betul, manusia modern hampir tak pernah lepas dari ponsel dan media sosial. Kondisi itu mereka maksimakan dengan baik. 

Mereka rajin memproduksi konten di akun Instagram Healing in Bontang. Pun mengajak tamu kolaborasi konten untuk memperluas jangkauan audiens. 

Mereka juga tak ragu menghabiskan uang jutaan rupiah per bulan untuk beriklan di Instagram.

''Jutaan kami keluarkan di Ig (Instagram) untuk iklan. Mungkin buat orang, apaan sih keluarkan begitu, tapi menurut kami itu penting. Buktinya ketika orang mau wisata ke Bontang atau tahu kami, semua bermula dari Ig kami,'' beber Ali. 

Seluruh metode bisnis ini mereka pelajari secara otodidak. Pembelajaran itu bisa datang dari evaluasi bulanan atau setiap kali rampung mengantar tamu di akhir pekan. Mereka juga rutin meminta masukan dan kritik dari tamu-tamu mereka. Semua dilakukan untuk peningkatan layanan. 

Hasil positifnya mulai terlihat setelah 1,5 tahun beroperasi. Mereka memiliki kapal sendiri yang bisa menampung sekitar 30 wisatawan. Mereka pun turut memberdayakan pemilik kapal di Bontang Kuala. 

Tur mereka rutin beroperasi setiap akhir pekan. Jumlah wisatawan yang mereka bawa berkeliling pesisir Bontang konsisten di angka 350-500 orang per bulan. Di momen tertentu bahkan bisa ribuan. 

Jumlah kru mereka bertambah. Dari mulanya hanya mereka berdua dan sejumlah pemandu wisata harian, kini sudah ada 30-an orang. Sebagian besar pemandu wisata, kapten kapal, dan beberapa admin. Semua warga Bontang. 

''Mimpi awalnya hanya lingkungan, tapi sekarang mimpi kami semakin besar. Kami ingin buka lapangan pekerjaan, memberdayakan lebih banyak warga Bontang di sektor pariwisata,''kata Ino. Suaranya mengembang ketika menyampaikan cita-cita besar ini. 

Menumbuhkan Pariwisata Sebelum Memungutnya

TAK BUTUH waktu lama bagi Ali untuk menjawab pertanyaan saya yang sangat sederhana: apa tantangan mengembangkan pariwisata di Bontang?

Bagi dia, yang diamini Ino, tatangan terbesar mengembangkan pariwisata di Bontang bukan tentang minimnya infrastruktur atau kurangnya bantuan pemerintah. Namun yang mereka inginkan amat sederhana, bagaimana pemerintah lebih dekat, merangkul, mendampingi masyarakat. Serta, ini paling digarisbawahi Ali: tidak buru-buru memburu pendapatan asli daerah (PAD).

Co-Founder Healing in Bontang, Muhammad Ali Wafa. (Fitri Wahyuningsih/Kaltim Today).

Menurut Ali, menarik PAD dari sektor wisata itu sangat mudah, bila ekosistemnya memang sudah terbentuk dan warga benar-benar sudah merasakan dampak ekonominya. Bila dalam proses merintis saja, belum settle, pemerintah sudah mengejar pendapatan demi pendapatan, ini hanya membuat mereka yang ingin masuk ke bisnis ini jadi pikir-pikir. Khususnya anak muda yang tidak semuanya datang dengan berbagai privilege: punya modal banyak.

Baginya, ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan angka, melainkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, yang lebih penting dilakukan saat ini adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat, memperkuat sumber daya manusia, serta memastikan roda ekonomi lokal benar-benar berputar. Setelah itu terjadi, pendapatan daerah akan mengikuti dengan sendirinya.

Ali menilai pemerintah seharusnya lebih banyak merangkul dan membesarkan inisiatif kemandirian yang telah tumbuh dari bawah. Sebab, masyarakat yang telah merasakan manfaat ekonomi dari pariwisata dan membangun kemandirian pada akhirnya akan bersedia berkontribusi kepada daerah.

''PAD ini game terakhir. Tumbuhkan dulu sosialnya dan kemandirian para pelaku pariwisatanya. Disadarkan dulu masyarakatnya. Kalau masyarakat sadar, ekonomi berputar, sistem diperbaiki. PAD akan timbul sendiri. Jangan tiba-tiba pemerintah datang mau kejar PAD, ekosistemnya saja belum terbentuk,'' urainya.

Co-Founder dan Founder Healing in Bontang, Muhammad Ali Wafa dan Suryani Ino. (Fitri Wahyuningsih/Kaltim Today).

Ditambahkan Ino, selain soal kebijakan, mereka juga menyoroti pentingnya pendampingan yang berkelanjutan. Selama ini, menurut Ino, dukungan pemerintah masih banyak diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik maupun pelatihan yang bersifat sesaat.

Padahal, kata dia, pembangunan sarana tanpa diikuti peningkatan kapasitas masyarakat tidak akan menghasilkan banyak perubahan.

“Percuma kalau tidak disertai pendampingan kapasitas SDM,” katanya.

Pengalaman mereka mengikuti pelatihan pemandu wisata menjadi salah satu contoh. Program sertifikasi memang pernah digelar dan Healing in Bontang turut dilibatkan. Namun setelah pelatihan selesai, tidak ada pendampingan lanjutan untuk membantu para peserta mengembangkan kemampuan maupun memperkuat usaha yang mereka jalankan.

Mereka juga menilai sejumlah program belum sepenuhnya tepat sasaran. Pelatihan kerap diberikan kepada kelompok-kelompok yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas wisata sehari-hari, sementara pelaku yang benar-benar mendampingi wisatawan di lapangan justru membutuhkan lebih banyak dukungan.

Dirintis sejak akhir 2023, Healing in Bontang jadi operator wisata lokal yang belakangan cukup dikenali di Bontang. Mereka memanfaatkan media sosial Instagram dan kolaborasi konten untuk menjangkau audines lebih luas. (Istimewa).

Bagi Ali dan Ino, membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas atau menggelar pelatihan sekali waktu. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat tumbuh secara mandiri bersama sektor tersebut, memiliki kemampuan mengelolanya, serta merasakan manfaat ekonomi yang dihasilkan.

''Menurut kami dua hal itu krusial. Pertama, jangan langsung target PAD saat ekosistmenya saja belum terbentuk. Kedua, tumbuhkan kemandirian SDM-nya, sembari pemerintah memperbaiki spot-spot destinasi wisata. Misal seperti Beras Basah sudah ditertibkan. Itu bagus, kami tetap apresiasi upaya Pemkot Bontang yang berusaha terus berbenah,'' tandasnya

--

SAYA TERINGAT deskripsi Seno Gumira Ajidarma dalam Sepotong Senja untuk Pacarku.

Dia menulis gini: ‘'Dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu sudah menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti senja di setiap pantai, tentu ada burung-burung, pasir basah, siluet batu karang, dan barangkai juga perau lewat di kejauhan.''

Sekarang saya tak perlu membayangkannya terlau jauh. 

Pemandangan seperti itu bisa ditemui di Pulau Beras Basah. Pulau Gusung. Atau di gugusan pulau-pulau kecil yang selama ini luput dari perhatian saya sendiri.

Dan lain kali, barangkali saya tak perlu terlalu bingung ketika ada kawan dari luar kota datang ke Bontang.

Setelah ke Bontang Kuala, makan gammi bawis dan menyaksikan matahari terbenam, keesokan harinya saya tahu mau bawa mereka ke mana.

ke laut. 



Berita Lainnya