Opini
Lebaran dan Doa Untuk Pemimpin

Oleh Eko Ernada (Dosen Komunikasi Internasional Universitas Jember)
LEBARAN tahun ini tak jauh berbeda. Kemeriahan tetap terasa. Orang-orang pulang kampung, jalanan macet, dan pusat perbelanjaan penuh sesak. Lagu-lagu Lebaran pun berkumandang di mana-mana. Tapi di antara lagu-lagu itu, ada satu yang selalu menarik perhatian: lagu Ismail Marzuki.
Tak seperti lagu Lebaran lain yang riang gembira, lagu ini menyelipkan doa. Doa yang tidak sekadar harapan pribadi, tapi untuk pemimpin. "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin..". Sebuah lirik yang terasa janggal di tengah gegap gempita hari raya, namun sarat makna.
Mengapa harus ada doa untuk pemimpin dalam lagu Lebaran? Sejak kapan tradisi ini muncul?
Di masa lalu, dalam banyak peradaban Islam, perayaan keagamaan selalu diiringi dengan doa untuk pemimpin. Di era Kekhalifahan Utsmaniyah, misalnya, khutbah Idulfitri selalu mencantumkan doa bagi sultan. Doa ini dianggap bagian dari tanggung jawab rakyat, sebab kesejahteraan mereka bergantung pada kebijakan penguasa.
Tradisi ini juga hidup di Nusantara. Pada masa kerajaan Islam, mulai dari Demak hingga Mataram, para ulama sering memimpin doa untuk raja di hari besar keagamaan. Bahkan, dalam berbagai teks kuno, ada keyakinan bahwa pemimpin yang didoakan rakyatnya akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Ismail Marzuki tampaknya sadar akan tradisi ini. Ia bukan sekadar menggubah lagu religi, tapi menyematkan pesan penting: pemimpin, sekuat apa pun, tetap manusia. Mereka butuh doa. Butuh bimbingan. Sebab, baik buruknya sebuah negeri, tak lepas dari arah yang mereka tentukan.
Namun, di era sekarang, kritik lebih nyaring daripada doa. Media sosial penuh dengan keluhan, sindiran, bahkan caci maki. Pemimpin disorot tajam, dievaluasi tanpa henti. Mungkin wajar. Harapan rakyat besar, sementara realitas sering mengecewakan.
Tetapi, apakah kritik saja cukup? Apakah hujan komentar pedas bisa menggantikan harapan dan doa?
Ismail Marzuki mengingatkan bahwa ada ruang untuk keduanya. Kritik boleh, tapi doa juga perlu. Sebab, di tengah segala dinamika politik, pemimpin tetaplah manusia—dan manusia, seperti kita semua, tak luput dari kesalahan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Nabi bersabda: "Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian." Itu berarti, rakyat pun punya peran. Tak sekadar menuntut, tapi juga memberi energi positif. Doa adalah salah satunya.
Jadi, ketika lagu Ismail Marzuki kembali terdengar di Lebaran ini, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Mendengarkan liriknya lebih dalam. Dan siapa tahu, di sela-sela kritik, kita sempatkan satu doa. Untuk pemimpin. Untuk negeri ini. Selamat Lebaran. (*)