Daerah
Zetizen Talk Angkat Isu Just Energy Transition, Green Job Jadi Peluang Anak Muda di Era Energi Bersih

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Peralihan menuju energi bersih tak sekadar soal meninggalkan batu bara, tapi juga tentang menciptakan peluang kerja baru yang adil bagi semua pihak.
Isu Just Energy Transition dan Green Job inilah yang dibedah dalam Zetizen Talk, dengan menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai jembatan menuju masa depan energi yang berkelanjutan, di Samarinda, Rabu (30/8/2025).
Fenomena krisis iklim, kenaikan suhu rata-rata bumi hingga persoalan pengelolaan sampah menjadi latar kuat mengapa transisi energi semakin mendesak. Energi bersih mulai digaungkan, sebagai jalan keluar dari ketergantungan pada energi fosil.
Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau, Doddy S. Sukardi memaparkan, perubahan iklim berawal dari pemanasan global akibat melonjaknya kadar karbon dioksida di atmosfer. Ia mengibaratkan kondisi itu seperti orang tidur berselimut tebal tanpa pendingin ruangan.
“Perubahan iklim bukan iklimnya yang berubah, tapi gejala seperti suhu, temperatur, dan kelembaban. Dampaknya terlihat dari gagal panen, penyakit, musim panas ekstrem, kebakaran hutan, hingga kekeringan,” jelas Doddy.
Menurutnya, perubahan iklim memiliki tiga ciri utama: borderless issue atau persoalan tanpa batas wilayah, longtime issue yang dampaknya terasa dalam jangka panjang, serta science-based argument yang harus dibuktikan melalui kajian ilmiah.
Karena sifatnya global, PBB sudah membahas isu ini lewat KTT Iklim sejak 1992. Salah satu komitmen dunia adalah mengurangi secara bertahap produksi batu bara yang disebut sebagai energi kotor.
Sementara, Dosen UNU Kaltim, Sari Mulyani menambahkan, transisi energi berkeadilan butuh dukungan generasi muda. Pasalnya, literasi energi di Indonesia masih rendah, riset energi masih jarang dipublikasikan, bahkan cenderung parsial.
“Sangat perlu bantuan generasi muda, Gen Z, untuk membantu mensosialisasikan tentang transisi energi berkeadilan ini,” ucap Sari.
Ia juga menyinggung paradoks di Kaltim, daerah penghasil energi fosil terbesar, tapi masih ada 110 desa yang belum menikmati listrik.
Menurutnya, transisi energi bukan sekadar peralihan dari fosil ke terbarukan yang hanya bisa dinikmati kelompok tertentu, tapi harus inklusif dan melibatkan masyarakat sejak perencanaan.
“Itu salah satu pokok kajian kita di dunia akademisi, di semua sektor,” sebutnya.
Sisi lain, Energy Advisor GIZ Indonesia dan ASEAN, Fajar Lizmanan melihat, Kaltim sebagai pusat penting dalam isu dekarbonisasi. Sebagai produsen batu bara terbesar, daerah ini berisiko mengalami guncangan ekonomi jika transisi energi tak diantisipasi.
“Kurang lebih 30-40 persen PDRB Kaltim bergantung dari batu bara. Jika permintaan turun, dampaknya pasti akan terasa. Pertanyaannya, Kaltim mau ngapain? Ini yang menjadi pertanyaan besar,” ucap Fajar.
Ia mencontohkan, saat harga batu bara turun pada 2016-2018, banyak pekerja terkena PHK. Kini, dengan menurunnya permintaan dari negara pengimpor seperti China dan India, Kaltim harus menyiapkan strategi diversifikasi ekonomi sebelum guncangan lebih besar datang.
“Kita berusaha melakukan reasing wernes dan advokasi ke pemerintah provinsi untuk melakukan transformasi ekonomi. Kita berpindah dari ketergantungan terhadap batu bara dan migas yang menyumbang devisa besar ke Kaltim, ke kegiatan ekonomi yg lebih beragam dan kita upayakan sama kuatnya dengan batu bara ke depannya,” kata Fajar.
Dari sektor inovasi, Founder CCO Ciroes, Dianisa Ester, menawarkan solusi pengelolaan sampah berbasis aplikasi.
Riset yang dilakukan di Balikpapan sejak 2021 menemukan banyak bank sampah tidak berjalan efektif. Dari situ, pihaknya meluncurkan platform digital agar masyarakat lebih mudah mengakses bank sampah dan mendapatkan keuntungan dari memilah sampah.
“Kita tidak membeli sampahnya, tetapi jasa masyarakat yang sudah memilah sampah. Dari situ mereka bisa mendapat hasil,” jelas Dianisa.
Pada akhirnya, Just Energy Transition dan Green Job bukan hanya wacana global, tapi persoalan nyata yang akan menentukan masa depan daerah seperti Kaltim. Keterlibatan anak muda menjadi kunci, agar transisi energi berjalan inklusif, adil, dan membuka peluang kerja baru yang lebih hijau.
“Saya optimis ketika Gen Z ini menduduki posisi-posisi sentral, transimi energi ini akan semakin cepat, mungkin 10 sampai 15 tahun ke depan,” kata Sari mengakhiri.
[SUP]
Related Posts
- Pemprov Kaltim Mulai Program Religi Gratis, 211 Marbot Berangkat Umrah Perdana
- KPK Tetapkan Putri Mantan Gubernur Kaltim sebagai Tersangka Suap IUP Tambang
- Aliansi Bakwan Suarakan Penolakan Kenaikan PBB dan Persoalan Warga Balikpapan
- Kasus Balita Cacingan di Sukabumi Viral, Obat Cacing Laris Diburu di Pasar Pramuka
- Spotify Naikkan Harga Langganan Bulanan untuk Danai Target 1 Miliar Pengguna