Daerah

Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Tempias Hujan, Usul Penutup Fleksibel agar Estetika Bangunan Terjaga

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 07 Januari 2026 20:36
Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Tempias Hujan, Usul Penutup Fleksibel agar Estetika Bangunan Terjaga
Lapak Aghist Jaya di Lantai 7 Pasar Pagi yang sempat terdampak tempias hujan beberapa waktu lalu. (Nindi/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur bangunan baru Pasar Pagi pada Sabtu (3/1/2026) lalu tidak hanya menimbulkan genangan di lantai 7, tetapi juga berdampak hampir ke seluruh lantai. Tempias air hujan dilaporkan masuk ke sejumlah titik termasuk di area grosir konveksi Aghist Jaya. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran pedagang terhadap keamanan stok barang dan kenyamanan aktivitas jual beli. 

Mashuda, pedagang grosir konveksi di lantai 7, menyampaikan bahwa air masuk ke area dalam pasar karena tidak ada penutup di sisi luar bangunan. Ia menjadi orang pertama yang membuka lapak saat kejadian berlangsung.

“Saat saya membereskan lapak ini, saya orang pertama yang buka. Pedagang lain belum buka, saya duluan. Bertepatan dengan hujan lebat dan angin kencang, airnya sampai masuk ke tiga sampai empat pintu,” ujar Mashuda saat ditemui Kaltim Today.

Menurutnya, air hujan yang terbawa angin langsung masuk ke selasar kios. Meski tidak menimbulkan kerusakan barang karena rolling door segera ditutup, potensi kerugian tetap menjadi perhatian utama pedagang.

“Alhamdulillah barang aman, karena langsung kami tutup rolling door. Ada saluran kecil, jadi air cepat turun. Tapi kalau hujannya lama, volume airnya besar, saluran airnya tidak mampu menampung, ya tentu bisa masuk. Itu yang kami khawatirkan,” jelasnya.

Mashuda menegaskan bahwa kondisi tersebut berisiko saat pasar mulai beroperasi normal. “Kalau sudah ada transaksi jual beli, lalu hujan, jangan sampai barang kebanjiran. Kalau itu terjadi, pasti pedagang rugi besar,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lain melalui forum komunikasi internal pedagang. Aspirasi itu kemudian diteruskan ke Dinas Perdagangan dan berlanjut ke pembahasan teknis bersama instansi terkait.

Jufriansyah, pedagang konveksi Akbar Collection,, menyebut bahwa pedagang dan pemerintah telah membahas opsi penanganan. Menurutnya, penyelesaian masalah tidak bisa dilakukan dengan penutupan permanen, karena berpotensi menghambat sirkulasi udara dan mengubah karakter bangunan yang dirancang sebagai pasar terbuka.

“Kalau ini ditutup permanen, aliran udaranya terhambat. Pasar ini desainnya terbuka, kalau ditutup total malah jadi masalah baru,” ujar Jufri.

Ia menambahkan, pedagang mengusulkan sistem penutup yang fleksibel, seperti jendela atau panel buka–tutup yang hanya digunakan saat cuaca ekstrem. Opsi itu dinilai mampu mengatasi tempias sekaligus menjaga tampilan bangunan.

“Saya sampaikan ke Bu Yama, jangan sampai pedagang ambil tindakan sendiri pakai terpal. Nanti tampilannya jadi tidak cantik, apalagi di pinggir yang kelihatan dari luar. Waduh, jangan sampai seperti itu,” katanya.

Jufri juga menyoroti bahwa penggunaan material mandiri oleh pedagang berpotensi menurunkan standar konstruksi. “Bahan berbeda mempengaruhi kualitas. Jadi kami sarankan sebaiknya ditangani langsung oleh Dinas Perdagangan. Bu Kadis sudah jawab, ‘ya kami akan koordinasikan dengan PUPR’,” tambahnya.

Mashuda juga mengonfirmasi bahwa Dinas Perdagangan telah melakukan survei awal di beberapa titik terdampak. “Tim sudah survei beberapa tempat, termasuk lapak saya di lantai 7. Mereka melihat titik mana yang harus diperbaiki,” katanya.

Sementara itu, hingga kini belum ada laporan kerugian material dari para pedagang. Sejumlah pedagang terpantau tengah menyusun barang dan menyiapkan lapak baru mereka menjelang peresmian Pasar Pagi. “Belum ada laporan kerugian. Ini masih proses pemindahan, pedagang masih menyiapkan rak dan menyusun barang,” pungkas Jufri.

[RWT] 



Berita Lainnya