Teknologi

Mengenali Kepribadian Seseorang Melalui 7 Aktivitas yang Sering Dilakukan di Media Sosial

Kaltim Today
25 November 2023 09:30
Mengenali Kepribadian Seseorang Melalui 7 Aktivitas yang Sering Dilakukan di Media Sosial
Ilustrasi wanita yang sedang melakukan stalking di media sosial untuk mengenal kepribadian seorang pria. (Pexels)

Kaltimtoday.co - Seseorang dapat mengetahui gambaran kepribadian orang lain dengan cara melihat akun media sosialnya. Dengan kata lain, kepribadian seseorang dapat dikenali secara tidak langsung melalui aktivitasnya di media sosial. 

Kepribadian yang tercermin di media sosial memang tidak sepenuhnya dapat dijadikan patokan utama dalam penggambaran kepribadian seseorang secara utuh. Namun, mengenali kepribadian seseorang melalui media sosial tentu akan bermanfaat dan aplikatif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Baik digunakan oleh seseorang yang ingin mencari teman, rekan bisnis, atau pasangan hidup, hingga perusahaan yang akan merekrut karyawan barunya.

Lantas bagaimana sih cara agar kita dapat mengenal kepribadian seseorang melalui aktivitasnya di media sosial? Dilansir dari buku “Sharing-mu Personal Branding-mu” karya Muhamad Fadhol Tamimy, seorang Konselor dan Penulis. Berikut 7 aktivitas di media sosial yang dapat digunakan untuk mengenali kepribadian seseorang.

1. Update Status

Upload Status
Upload Status. (Pexels)

Update status merupakan bentuk penyebaran informasi atau ungkapan ekspresi yang dilakukan oleh pengguna media sosial melalui teks singkat di platform media sosial. Karakter pengguna media sosial yang sering melakukan update status memiliki kecenderungan narsistik, menyukai hal baru dan terbuka.

Hubungan antara seberapa banyak update status dengan kepribadian narsistik biasanya merupakan bentuk keinginan dari orang yang bersangkutan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain yang mungkin tidak didapatkannya di dunia nyata.

Sementara itu, jika update status yang dilakukan menyangkut luapan emosi atau bernada keluh kesah, orang tersebut dapat diidentikkan sebagai karakter pencemas. Apabila status luapan emosi tersebut atau sejenisnya di posting secara terus menerus, orang tersebut dapat dikategorikan ke dalam kepribadian Neuroticism.

2. Upload Foto

Upload Foto
Upload Status. (Pexels)

Upload foto adalah bentuk kegiatan menampilkan foto atau gambar ke dalam akun media sosial. Alasan pengguna media sosial gemar mengupload foto pun bermacam-macam, diantaranya luapan suka cita, menyimpan foto secara online, berbagi informasi melalui gambar hingga mendapatkan pengakuan dari orang sekitar.

Untuk mengetahui kepribadian seseorang berdasarkan aktivitas meng-upload foto dapat dilihat dari seberapa besar (intensitas) orang tersebut melakukannya. Apabila intensitas meng-upload foto cukup tinggi atau sering, berarti orang tersebut cenderung kurang mampu membedakan antara privasi dan ruang publik. 

Sementara itu, orang yang selalu aktif di media sosial tetapi jarang meng-upload foto, berarti dirinya cenderung mampu membedakan antara privasi dan ruang publik. Hal ini dapat diartikan bahwa orang yang jarang mengupload foto memiliki kepribadian yang dapat dipercaya, tertutup dan perhatian terhadap lingkungan sekitar.

3. Mengganti Foto Profil

Mengganti Foto Profil
Mengganti Foto Profil. (Pexels)

Ada banyak alasan mengapa seseorang mengganti foto profilnya di media sosial, di antaranya karena melihat foto lain lebih bagus untuk dijadikan foto profil, tidak percaya diri dengan foto profil yang sedang dipasang, menghindari komentar negatif dari pengguna media sosial lainnya serta ingin menunjukkan eksistensi diri.

Orang yang sering mengganti foto profil memiliki kecenderungan tidak konsisten dalam bersikap dan kurang mempunyai kepercayaan diri. Sementara itu, orang yang jarang atau bahkan tidak pernah mengganti foto profil cenderung mempunyai kepribadian yang cuek dan percaya diri.

4. Memberi Komentar

Memberi Komentar
Memberi Komentar. (Pexels)

Memberi komentar merupakan bagian dari interaksi yang dilakukan oleh pengguna media sosial dalam menyikapi atau memberikan penilaian terhadap gambar, teks ataupun video yang di-upload di media sosial.

Seseorang yang gemar memberikan feedback berupa komentar memiliki kecenderungan senang dengan aktivitas sosial, terbuka dengan hal baru, kritis, memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan pandai melihat peluang.

5. Memberi Like

Memberi like
Memberi like. (Pexels)

Memberikan like pada suatu postingan merupakan bagian dari interaksi yang dilakukan berupa dukungan, ketertarikan maupun persetujuan terhadap postingan milik orang lain. 

Intensitas yang wajar dalam memberikan like adalah ketika seseorang melihat postingan menarik lalu memberikan like, menggambarkan orang tersebut pandai menghargai, memiliki rasa empati serta mudah bergaul dan beradaptasi dengan teman baru.

Namun, apabila seseorang memberikan like dengan intensitas yang tinggi atau sering, yakni ketika semua postingan diberikan like ,baik yang menarik ataupun tidak. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa orang tersebut cenderung agresif, gigih dan senang untuk mencari perhatian (mungkin agar di follow back atau aktivitasnya di media sosial dilihat orang lain)

6. Share Informasi

Share Informasi.
Share Informasi. (Pexels)

Share informasi di media sosial merupakan kegiatan membagikan informasi dari sumber milik individu, grup ataupun fanspage. Informasi tersebut dapat berupa gambar, video atau berita. Seseorang yang gemar melakukan share informasi mempunyai kepribadian yang cenderung terbuka terhadap hal baru.

7. Stalking

Stalking
Stalking. (Pexels)

Stalking adalah aktivitas melihat dan mengamati profil akun pengguna media sosial lain. Jika dikaitkan dengan bahasa masa kini, stalking merupakan aktivitas memata-matai akun media sosial orang lain yang dianggapnya menarik, baik pasangan atau mantan pasangan, selebritis ternama, ataupun temannya sendiri. 

Orang yang gemar melakukan stalking disebut stalker. Dalam melancarkan aksinya, para stalker ini dilatarbelakangi oleh berbagai alasan. Diantaranya tertarik dengan postingan orang lain, sedang dalam masa pendekatan hubungan dengan orang lain, melihat foto yang menarik atau hanya ingin memuaskan hasrat ingin tahu saja.

Berbeda platform media sosial, maka berbeda pula kepribadian stalker yang tengah menjalankan aksinya. Para stalker yang menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, X, dan Line dalam melakukan stalking, cenderung memiliki karakteristik mudah curiga, tertarik pada hal baru dan haus akan informasi.

Sementara itu, stalker yang lebih aktif menggunakan Linkedin dalam melakukan stalking cenderung memiliki kepribadian pemberani dan percaya diri. Dikatakan percaya diri karena dalam platform Linkedin, setiap akun yang melihat atau stalking postingan akun lain akan muncul di sistem pemberitahuan atau notifikasi akun yang bersangkutan. Artinya, para stalker mempunyai nyali yang cukup baik untuk diketahui orang yang sedang mereka “kepo-in”

[Kontributor : Gilang Satria Pratama | Editor : Diah Putri]


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram "Kaltimtoday.co News Update", caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. 



Berita Lainnya