Samarinda

Samarinda Zona Merah, Orangtua Siswa Akui Masih Bingung Harus Pilih Belajar Daring atau Luring

Kaltimtoday.co, Samarinda – Wali Kota Samarinda, Andi Harun membuka opsi belajar daring dan luring bagi siswa SD dan SMP. Hal tersebut dipertimbangkan sembari melihat angka kasus positif Covid-19 yang masih bergerak fluktuatif di Samarinda. Terlebih lagi, sampai saat ini seluruh kecamatan di Samarinda berada di zona merah.

Disampaikan Andi pada saat konferensi pers di Balai Kota Samarinda, Selasa (22/2/2022) lalu, para orangtua siswa dan siswa akan diberikan 2 pilihan. Yakni tetap mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah atau belajar daring di rumah.

Baca juga:  Bias Optimisme di Tengah Pandemi, Cenderung Abaikan Prokes

“Sekolah membuka alternatif kepada siswa dan orangtua siswa yang akan memilih untuk tidak belajar di sekolah. Sebab itu juga hak yang melekat di siswa maupun orangtua. Pemkot melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) akan menyiapkan sarana pendidikan daring,” ungkap Andi di hadapan awak media.

Mengenai hal tersebut, tentu menuai berbagai tanggapan dari orangtua siswa. Salah satunya adalah Novia Irma. Dia memiliki anak yang masih duduk di kelas 3 SD. Ditanya mengenai adanya opsi untuk memilih antara belajar daring dan luring, Novia mengaku bingung.

“Bingung saya. Walaupun sudah terlalu lama di rumah ya. Tapi kalau masuk sekolah, risikonya jatuh sakit. Masih abu-abu, saya masih lihat situasi dan kondisi,” beber Novia kepada Kaltimtoday.co, Rabu (23/2/2022).

Sejauh ini, PTM yang terlaksana di sekolah anaknya yakni SDN 013 Sungai Pinang, menurutnya masih aman dengan standar protokol kesehatan (prokes) ketat. Anaknya pun belajar di sekolah dengan sistem sesi. Dalam seminggu, belajar di sekolah selama 3 hari saja.

“Kalau zona merah begini Samarinda, sebenarnya lebih memilih daring. Daripada kenapa-napa. Malah anak saya belum sempat disuntik vaksin dosis pertama dan kedua karena sebelumnya sempat sakit,” lanjutnya.

Senada dengan Novia, Erniwati, orangtua siswa lainnya juga punya pandangan yang sama. Melihat kondisi Samarinda yang seluruhnya berada di zona merah, dia lebih memilih pembelajaran kembali daring.

“Mau menyekolahkan anak juga was-was. Walaupun anak saya sudah dapat vaksin, tapi tetap takut kalau sampai terpapar Covid-19,” bebernya.

Walaupun nanti ada opsi untuk memilih sekolah daring atau luring, Erni pribadi sebenarnya lebih nyaman untuk anaknya yang masih kelas 4 SD belajar daring. Namun dia juga masih melihat situasi. Jika orangtua lainnya lebih banyak yang setuju untuk tetap belajar luring, mau tak mau dia tetap mengikuti agar ikut belajar luring.

“Seandainya banyak yang setuju tetap PTM, seperti saya yang tidak setuju ini nanti takut anak ketinggalan pelajaran. Khawatirnya, pembelajaran akan lebih fokus saat luring dibanding luring,” lanjut Erni.

Melihat banyaknya siswa yang positif Covid-19 selama PTM berlangsung, hal itu cukup mengkhawatirkannya.

Baca juga:  Paslon Sudah Serahkan LADK, Pembatasan Pengeluaran Dana Kampanye Maksimal Rp 14,7 Miliar

“Siapa yang bisa menjamin kalau anak-anak tidak tertular virus walaupun di sekolah sudah dengan prokes yang ketat?” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin menjelaskan, sekolah dianjurkan untuk melakukan penyemprotan disinfektan di sekolah, khususnya ruang kelas. Hal itu sebagai upaya jika ada sekolah yang siswanya terkonfirmasi positif.

Bagi sekolah yang memiliki jumlah kasus positif sebanyak 0-5 persen, maka akan ditutup selama 5 hari. 5 hari itu pula akan dimanfaatkan untuk penyemprotan disinfektan. Sedangkan siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 akan diliburkan dan siswa yang tidak terkonfirmasi, lanjut belajar daring.

Kemudian bagi sekolah yang kasus positifnya di atas 5 persen, akan ditutup selama 14 hari. Satgas Covid-19 di tiap kecamatan, kelurahan, dan kota juga akan mengikuti perkembangan siswa yang terkonfirmasi positif.

“Jadwal penyemprotan tergantung tiap sekolah yang atur. Untuk itu, sekolah bisa koordinasi dengan kecamatan setempat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda,” beber Asli.

Sementara itu, berdasarkan data terakhir dari Disdikbud Samarinda, tercatat ada 90 siswa SD dan 13 Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian untuk SMP, tercatat 40 siswa dan 1 PTK yang terkonfirmasi positif juga.

Baca juga:  Relaksasi Pajak di Kukar Diperpanjang, Denda PBB-P2/2014-2019 Dihapuskan hingga 3 Bulan ke Depan

Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma menjelaskan bahwa, dari jumlah tersebut, sebagian sudah ada yang dinyatakan sembuh dan negatif Covid-19. Namun belum dapat dipastikan jumlah spesifiknya. Sebab data terus bergerak setiap waktu.

“Ada juga yang masih didata karena masih menunggu hasil dari lab. Kalau ada siswa yang positif, harus isolasi sampai sembuh. PTM di kelas harus di-off kan dan dialihkan ke daring seperti sebelumnya,” jelas Barlin singkat.

[YMD | RWT]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker