PROKOM KUKAR
Produksi Rumput Laut Kukar Didominasi Gracilaria, DKP Fokus Hilirisasi dan Peningkatan Kualitas
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Produksi rumput laut di Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan capaian besar sepanjang 2024. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar mencatat jenis Gracilaria menjadi komoditas paling dominan dengan total produksi mencapai 67.818 ton. Angka ini terpaut jauh dari produksi Kotoni yang berada di level 162 ton pada tahun yang sama.
Kepala DKP Kukar, Muslik, menjelaskan bahwa dominasi Gracilaria sejalan dengan penguatan sektor perikanan yang tertuang dalam program Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin.
Komoditas ini relatif lebih mudah dikembangkan pada karakteristik tambak di Kukar. Sementara Kotoni memiliki syarat perairan lebih spesifik dan jernih, sehingga penyebarannya terbatas.
“Yang paling banyak itu Gracilaria. Karena mudah dibudidayakan di tambak-tambak kita,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Sebaran budidaya Gracilaria saat ini berada di Samboja, Muara Badak, Anggana, hingga Marangkayu. Sementara untuk Kotoni, sebagian besar pengembangannya berada di wilayah Samboja dan area tertentu yang kualitas perairannya memenuhi standar. Muslik menegaskan bahwa karakter perairan Kukar yang dipengaruhi Sungai Mahakam membuat banyak lokasi kurang ideal bagi Kotoni.
Meski demikian, Kukar tetap mendorong dua komoditas ini sebagai bagian dari penguatan produksi daerah. Terlebih, rumput laut menjadi salah satu komoditas yang masuk prioritas nasional, terutama untuk kebutuhan ekspor. DKP juga telah mengawal sejumlah proses perizinan budidaya Kotoni di Samboja yang saat ini sudah terbit dari kementerian.
Dalam pengembangan Gracilaria, salah satu tantangan utama terletak pada teknik budidaya yang masih bersifat tradisional. Banyak petambak masih menerapkan metode tabur sederhana tanpa kontrol kualitas. Menurut Muslik, peningkatan kualitas menjadi kunci agar nilai jual rumput laut bisa lebih tinggi.
“Kita ingin kualitasnya meningkat. Nanti kita lakukan pendampingan dan edukasi lebih intensif,” jelasnya.
Selain peningkatan produksi, Kukar juga mulai memperkuat sektor hilirisasi. DKP menilai bahwa nilai tambah rumput laut cukup besar jika tidak hanya dijual dalam bentuk kering. Produk turunan seperti agar, tepung rumput laut, hingga lembaran rumput laut untuk industri makanan dan farmasi menjadi peluang yang mulai dipetakan.
“Hilirisasi itu nilai tambah. Tidak hanya dijual begitu saja,” kata Muslik.
Saat ini, rencana pembangunan pabrik pengolahan rumput laut di Kukar terus disiapkan. Meski belum beroperasi, keberadaan pabrik diyakini akan meningkatkan serapan produksi lokal dan menjaga stabilitas harga di tingkat pembudidaya. Muslik berharap fasilitas tersebut segera berjalan agar rumput laut Kukar tidak sepenuhnya bergantung pada pasar luar daerah.
Ia menambahkan, kebutuhan pasar nasional dan ekspor terhadap rumput laut sangat besar. Jika kualitas dapat ditingkatkan dan rantai pasok tertata dengan baik, Kukar berpeluang menjadi satu sentra penghasil rumput laut yang kuat di Kalimantan Timur.
“Produksi kita sudah besar. Tinggal kualitas dan hilirisasinya saja yang perlu dikuatkan. Kami terus mendorong agar pembudidaya mendapat harga terbaik,” pungkasnya.
[RWT | ADV PROKOM KUKAR]
Related Posts
- Produksi Perikanan Budidaya di PPU Tertolong Rumput Laut, Konsumsi Justru Masih Rendah
- Diskan PPU Jaga Konsistensi Budidaya Rumput Laut, Targetkan Kenaikan Produksi 10 Persen
- Dinas Perikanan Kukar Tegaskan Tidak Ada Pungutan dalam Pengurusan Bantuan
- Disperindag Kukar Segera Resmikan Pabrik Rumput Laut di Muara Badak
- DKP Kukar Bangun Penetasan Benur Skala Besar untuk Penuhi Kebutuhan di Kaltim









