PPU

Nelayan Menjerit: Ikan Kian Sulit dan Wilayah Tangkap Makin Terhimpit

Muhammad Razil Fauzan — Kaltim Today 26 Oktober 2023 16:36
Nelayan Menjerit: Ikan Kian Sulit dan Wilayah Tangkap Makin Terhimpit
Nelayan PPU mengeluhkan ikan dan wilayah tangkap yang semakin sulit. (Foto: Tim Kaltimtoday.co)

DI TENGAH teriknya matahari - Acong, Fadli, dan Tanwir sedang mengitari pesisir pantai sembari mengobok-ngobok air laut yang kala itu sedang bergelombang akibat embusan angin.

Ketiganya merupakan nelayan yang besar dan hidup sejak kecil di pesisir Kelurahan Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Alih-alih menjaring ikan di luasnya lautan, siang itu mereka justru menahan diri dan lebih memilih mencari teripang yang disebutnya “timun laut” demi mencari pundi-pundi rupiah untuk bertahan hidup.

Padahal, harga teripang basah pun hanya dibanderol Rp15.000 per kilogramnya. Jelas nominal itu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari namun apa daya, itulah jalan satu-satunya mereka bisa bertahan. 

Bukan tanpa alasan dirinya harus mengurungkan niatnya mencari ikan di laut lepas, selain embusan angin laut yang tidak bisa diterka akibat musim selatan, dirinya pernah memiliki pengalaman yang hampir naas.

“Ketika angin ribut dulu, posisi masih di dalam sini (area teluk) belum terasa kan, pas kena di laut kita gak bisa jalan. Berlarut-larut saja kapal. Sampai angin reda, baru bisa jalan. Kalau nekat jalan, bisa tenggelam,” kenang Acong.

Hidup di atas perairan pesisir tidak lekam dari terpaan angin kencang dan pasang air laut tinggi. Di saat itu, para nelayan praktis tidak bisa mencari ikan dan hanya bergantung pada komoditas di kawasan pesisir.

“Puting beliung waktu itu sempat datang. Di sini satu rumah terkena, kemarin rumahnya Iyan (tetangganya) atapnya terbang sampai ke laut. Atap belakang rumah mertuaku juga terbang,” sahut Fadli.

Nasib yang sama juga turut dirasakan masyarakat pesisir yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Lama. Muhammad Aryzal Rahman (37) selaku ketua mengaku, perolehan hasil laut saat ini jauh dari kata untung, bahkan berujung buntung.

KUB Nelayan Lama sendiri dicetuskan oleh ayahanda dari Rahman pada tahun 2009. Kini kelompok tersebut berisi 10 anggota dengan target pencaharian hasil laut berupa ikan, kepiting, hingga lobster. 

Angin yang bertiup dari arah selatan juga menjadi kendala utama. Bahkan, dirinya sempat memutar otak beralih pencaharian dari memancing ikan menjadi mencari udang. 

Terlebih ketika saat musim angin melanda, gelombang laut mengamuk yang menyebabkan perubahan arus laut yang berubah tidak menentu membuat para nelayan was-was untuk bekerja.

“Saat musim (angin) selatan, tentu berdampak bagi teman-teman nelayan di sini, keluhannya ya enggak bisa ke laut,” ucap Rahman.

Akhirnya, penekanan finansial keluarganya pun terus digenjot. TIdak main-main, penghasilannya turun hingga 40 persen karena angin kencang yang menghambat nelayan untuk turun ke laut. Risiko tinggi menjadi pekerjaan rumah bagi para nelayan.

Derita nelayan pun tidak berhenti sampai di situ. Wilayah tangkapan rata-rata nelayan di Jenebora harus pergi berpuluh-puluh mil menggunakan perahu, pasalnya laut di sekitar rumah mereka tidak lagi menawarkan penghasilan manis. 

“Perginya ada yang sebagian di teluk Balikpapan, ada yang keluar teluk. Kadang, kami mencari ikan harus sampai ke daerah Grogot,” tuturnya. 

Sudah tidak memungkinkan lagi untuk para nelayan di pesisir Jenebora mendapatkan penghasilan besar, apalagi untuk wilayah teluk. Aktivitas kapal tongkang yang berisikan batu bara juga telah mencemari perairan mereka. 

Ketika para nelayan hendak menjaring lobster, misalnya, area karang yang menjadi habitat utama lobster menjadi rusak. Jangkar kapal tongkang akibat bongkar muat batu bara serta serpihannya menjadikan hilangnya habitus udang karang tersebut. 

“Kasihan nelayan di sini, rata-rata tempat parkir kapal tongkang itu karang, di situ lah tempat mereka mencari nafkah. Cuma nelayan, masyarakat kecil ini tidak bisa apa-apa,” ujarnya. 

Berdiam. Menjadi tenaga mereka satu-satunya ketika suara penderitaan para nelayan tidak lagi didengar. Padahal penghasilan terbatas mereka menjadi tumpuan bagi keluarga. 

Hasil melaut harus dipaksa untuk cukup menghidupi kehidupan sehari-hari dan keperluan anaknya bersekolah. Beberapa istri nelayan, kata Rahman, harus membuka warung sembako demi menopang keluarga kecil mereka. 

Demi mendapatkan penghasilan lebih, Rahman terkadang nekat untuk pergi ke perairan yang lebih jauh untuk memecah ombak. Risiko yang menyangkut nyawa ikut dipertaruhkan di sana. 

“Cuma sekarang mencari ikan dan kepiting harus lintas kabupaten kalau mau hasil yang lebih besar, pulangnya setengah bulan sekali, ke Bontang misalnya,” tandasnya.

Bergeser sekitar 6,3 kilometer dari Kelurahan Jenebora melalui jalur laut, ada Alim, yang lahir dan tumbuh di Kelurahan Pantai Lango.

Angin kencang dan badai sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Dirinya nekat melawan cuaca ekstrem untuk menerjang angin dan amukan ombak ke arah Teluk Balikpapan demi mencari gerombolan udang.

Cuaca sulit diterka, angin datang secara tiba-tiba, panasnya terik matahari menghantam kepala, hingga Alim mesti memantapkan jiwa untuk pergi melaut agar nyawa tidak berujung duka.

“Dulu pernah berapa kapal hilang dan rusak karena ombak besar, syukurnya orangnya masih selamat, terdampar di pinggir pantai, sampai karena angin,” rentetnya.

Ketika cuaca menggila, nelayan di Pantai Lango harus menahan diri. Namun tidak jarang pula, ada nelayan tatkala sudah berhasil sampai di tengah laut tempat udang dan ikan berkumpul, harus kembali dengan membawa seonggok rasa khawatir karena cuaca.

Dirinya mengaku, pendapatannya tergantung dari bagaimana keramahan musim dan cuaca. Ketika cuaca cukup bersahabat, Alim pernah mendapat hingga 10 kilogram udang dalam sekali tangkap. Namun itu tidak selang lama, banyaknya tangkapan hanya berselang sekitar tiga hari dan setelahnya lenyap. 

Lokasi penangkapan udang juga menjadi penentu, pasalnya, mayoritas nelayan di Pantai Lango sudah tidak bisa melakukan penangkapan di sekitar pesisir tempat mereka bermukim. Hal itu disebabkan mereka mulai terpojok dengan banyaknya kapal korporasi yang berlalu lalang.

“Saya semacam terpojok, kemarin-kemarin kan tempat aktivitas nelayan ini di daerah pinggiran sini, tapi sekarang sudah banyak kapal perusahaan. Di bawah laut itu (karang) sudah enggak tau kita bagaimana bentuknya karena sehari-hari jangkar-jangkar itu turun,” kesalnya.

Padahal dahulu, tempat kapal-kapal korporasi yang jangkarnya meluluhlantakkan terumbu karang itu merupakan habitus alami udang dan ikan. Namun naas, kini cerita manis itu hanya menjadi ironi.

“Orang tua dulu cerita, saya juga masih sempat dapat (banyak udang dan ikan). Dulu, jarang beli jaring kemudian turun ke laut dan pasang, udah langsung bawa pulang, dapat banyak,” kenangnya.

Masyarakat pesisir yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan di Pantai Lango harus beradu wilayah dengan korporasi. Tentu tidak sebanding, namun apa daya, kekuatan mereka tidak mampu untuk mengeluhkannya ke pihak perusahaan. 

“Ini tempat aktivitas kami dari dulu, mulai dari nenek moyang kami di sini. Kita ini hanya nelayan yang mengandalkan alat tangkap kerajinan tradisional,” tuturnya dengan raut wajah sayup dan mata yang berkaca-kaca.

Di Kelurahan Babulu Laut ada Ketua KUB Jati Makmur, Syarifuddin (51), yang bahkan pernah tidak mencari udang dan ikan ke laut selama sebulan suntuk, tepatnya pada Maret 2023 silam.

“Kadang sebulan (tidak mencari ikan), saat bulan puasa kemarin betul-betul enggak ada, karena cuaca enggak menentu,” tutur Syarifuddin yang nampak sedih saat bercerita di teras rumahnya. 

Pada akhir tahun 2022 misalnya, badai dan cuaca ekstrim yang datang tiada henti membuat dirinya tidak mencari udang dan ikan ke laut. Pemasukannya anjlok tidak karuan. 

“Minus sekali itu pada waktu itu, karena banyak di rumah aja nelayan-nelayan ini. Risiko juga nelayan ini tapi mau bagaimana, sudah kerjaan di sini. Daripada ngambil barang-barangnya orang, mending hidup seperti ini, yang penting halal,” tuturnya. 

Sering kali Syarifuddin menghadapi ombak besar dan arus kencang yang tiba-tiba datang menghampiri kapalnya di tengah laut. Dirinya lantas bergegas untuk pulang menyelamatkan nyawa. 

“Saya sendiri mengalami pak. Pada waktu itu, pasang jaring, datang angin ribut. Sambil dzikir aja sudah. Bisa dikatakan saya hidup kalau saya sudah sampai di rumah,” ucapnya sambil ketakutan.

Pada situasi seperti itu, hujan bergegas datang mengikuti, jarak pandang terbatas untuk melihat lokasi daratan, arah Syarifuddin pulang. Terpaksa kapal miliknya dibiarkan berlarut dan tidak jarang dirinya tersesat.

Pendapatan dari hasil tangkapan laut beberapa tahun terakhir disebutnya tidak menentu. Dirinya bahkan mengaku kehidupannya sebagai nelayan makin tersudut, diandalkannya hanya sekadar mencari makan untuk keluarganya. 

Hidup Syarifuddin bersama keluarga hanya bergantung pada banyaknya udang dan ikan yang didapatkannya. Ketika apa yang diharapkannya sulit ditemukan dan nyaris hilang, pulang dengan tangan kosong pun menjadi keputusan berat. 

Syarifuddin mengungkapkan, kekayaan laut yang seharusnya dia nikmati direnggut begitu saja oleh para pencari ikan yang menggunakan jaring pukat yang masuk ke wilayah tangkap KUB Jati Makmur.

“Mengganggu juga, seringkali sudah ditegur, malahan kelahi. Sampai datang dari kepolisian untuk menenangkan. Sampai sekarang itu enggak berhenti (aktivitas jaring pukat),” ucapnya kesal. 

Dia merasa, dahulu pendapatan dan cuaca jauh lebih baik dibanding saat ini. "Dulu itu, yang kita cari enak dapatnya itu udang. Sekarang susah, harus agak jauh mencarinya” sergahnya sembari mengelus rambutnya. 

“Waktu saya masih kecil, di lautan sini saja dapat ikan kembung. Kalau sekarang, satu pun harus betul-betul ketemu tempatnya,” tutupnya.

Seorang pria berkulit sawo matang nampak tengah mengasah seonggok besi berbentuk kipas, yang dapat ditebak sebagai sebuah baling-baling mesin dari perahu yang tengah menopang tubuhnya.

Duduk di lambung sebuah perahu pada siang bolong menandakan pria yang akrab disapa Awaludin (39) tengah libur untuk bekerja mencari hasil laut. Sembari diiringi semilir angin yang cukup kencang, dirinya terlihat mempercantik paras dari alat penunjang profesinya sebagai nelayan.

Sebagai warga Kelurahan Pejala, sudah menjadi hal yang lumrah jika kebanyakan masyarakat di sana hidup dan bergantung dari kekayaan hasil laut. Namun, jika cuaca memburuk dan bedai kerap kali muncul, niat itu harus digantung secara terbalik.

Alih-alih menjadi insinyur, dirinya harus membungkus kisah-kisah itu dan memilih menjadi seorang nelayan. Bahkan, dirinya sudah melaut sejak duduk di bangku sekolah dasar dan terus berlanjut mengikuti jejak orangtuanya hingga kini. 

“Kalau enggak melaut, kegiatannya sembarang saja dikerjakan pokoknya cari kesibukan yah, soalnya murni mata pencaharian di laut. Kalau pas angin kencang, ya hidupnya seperti itu, sempat dapat sesakit-sakitnya enggak bisa turun ke laut sering ngutang,” ucapnya.

Awaludin telah menetapkan wilayah tangkapnya, ia harus menempuh lebih dari tiga kilometer dari bibir pantai tempat dirinya tinggal. Pergi dari jam 06.00 hingga 17.00 Wita untuk menghidupi keluarganya. 

Namun tidak jarang pula ayah dari tiga orang anak ini harus pergi dari sore hari hingga pagi keesokannya untuk begadang menunggu hasil bagang, alat penangkapan ikan yang menggunakan jaring dan lampu.

Bagang menjadi opsi ketika menjaring di laut lepas hanya menghabiskan solar perahu dan pulang dengan tangan kosong. Sebab tidak jarang, cuaca dan musim angin yang tidak bisa diprediksi datang menghampiri.

“Kalau kondisi di laut seperti angin kencang, di bagang ini enggak ada ikan dan udang, paling cari siang hari saja di laut lepas,” kisahnya.

Ketika cuaca memburuk dan musim ikan tidak lagi datang, ekonomi Awaluddin mengalami penurunan. Apa daya, dirinya tidak bisa melawan kehendak alam yang menjadi tempat ia mencari nafkah.

“Karena kadang angin terlalu kencang itu kan kadang enggak turun ke laut. Kalau agak-agak teduh lautnya, ya baru melaut lagi,” jelasnya.

Dia juga menceritakan bagaimana cuaca sangat bergantung terhadap profesi nelayan, bukan hanya biota laut yang sulit didapat, namun nelayan dapat dirugikan akibat pecahnya perahu oleh hantaman ombak.

Iklim perairan pun saat ini sangat berbeda dengan dahulu kala ketika dirinya muda. “Kalau dulu saat musim ikan, pokoknya sampai dibuang-buang ikannya bersisa, sampai busuk. Tetapi kalau sekarang pengepul banyak, ikannya yang kurang. karena faktor cuaca jadinya sekarang jauh berkurang.”

Air yang seharusnya jernih, kini kerap kali berlumpur dan menyebabkan biota laut seperti ikan dan udang enggan untuk menampakkan dirinya. 

Hadirnya lumpur di laut disebut Awaludin sebagai pertanda angin datang. Terlebih ketika musim ubur-ubur menghantui selama sepekan, menyebabkan ikan enggan untuk muncul.

“Enggak tau karena airnya panas atau seperti apa, karena naik semua (ubur-ubur) ke permukaan. Kalau sudah musimnya ubur-ubur, sudah selesai, sudah enggak ada harapan lagi dapat ikan,” cecarnya.

Perubahan iklim tidak hanya dirasakan di areal tangkap para nelayan, di Pantai Pejala tempat dirinya tinggal lambat laun pasirnya terkikis atau abrasi. “Sekarang terkikis karena angin selatan, kadang ada rumah sepotong hilang dapurnya karena pasirnya turun, tahun lalu ada yang kena.”

Daerahnya merupakan kawasan yang rawan angin puting beliung. Tidak jarang rumah warga diporakporandakan oleh embusan angin itu. Perahu para nelayan pun kadang hanya menyisakan sebagian belah papan.

“Tahun lalu ada, cuma enggak sampai sini, itu baru-baru aja kan. Biasanya angin waktu kita ke laut aja, tapi baru-baru ini sudah sampai ke pantai daerah kami,” pintanya.

Dia memikirkan nasib para nelayan kala hadirnya IKN Nusantara. Dengan cuaca tak menentu dan iklim laut yang cepat berubah, hasil tangkap pun ikut menurun.

Ditanya apakah sanggup memenuhi kebutuhan maritim jutaan penduduk yang akan bermukim di sana. Dirinya lama memikirkan jawaban itu. 

“Kalau nelayan sekitar sini mungkin sanggup saja memenuhi sektor perikanan di IKN, karena penghasilannya lumayan, kalau memang sudah musimnya. Tapi kalau sepi kaya gini, ya enggak bisa,” tandasnya.

Sudah lebih dari 45 tahun, Ahmad (56) Ketua KUB Bunga Waru menjajali pekerjaan sebagai nelayan. Ini profesi warisan peninggalan dari sang ayah yang ia temani sejak berusia 10 tahun kala itu.

Ahmad beranggapan, kuantitas ikan di perairan Kecamatan Waru kian menipis. Dahulu, ikan hasil tangkap nelayan melimpah ruah. Perahu yang tersusun hingga sembilan helai papan bahkan pulang terisi penuh.

“Dulu pencari ikannya kurang dan ikannya banyak, tetapi sekarang pencarinya banyak, ikannya kurang. Karena banyak nelayan ikan masih kecil sudah diambil, kayak "gae" (istilah nelayan yang menggunakan jaring pukat harimau), ikan kembung masih kecil-kecil tetap diambil,” tuturnya kesal.

Dirinya membenarkan bahwa belakangan ini hasil tangkap nelayan anjlok drastis. Pancaroba dan arusnya diyakininya sebagai penyebab utama. Haluan arus dan angin yang tidak menentu membuat nelayan bernasib miris.

Serba salah, katanya, sebab jika tak melaut, tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Kebun tidak punya, keahlian lain tidak dikuasai, lapangan kerja kasar pun sulit didapat, alhasil ketika tidak dapat melaut akibat cuaca buruk, memoles kapal dan menutupi lubang di bilah kayu perahu menjadi pekerjaan yang satu-satunya bisa dilakukan. 

“Pemerintah juga sudah kurang perhatikan. Enggak kayak dulu, pukat harimau dilarang dan diawasi. Di sini banyak banget yang pake “gae”, liat sendiri di kapal-kapalnya orang itu,” sambil menunjuk sederet kapal yang dipenuhi jaring-jaring hijau yang tebal. 

Penghasilan ke laut tidak menentu, mancing kala rembulan terbit disebutnya “sakit” bukan secara harfiah namun jika mancing malam, belum tentu bisa mendapat ikan. Berbanding terbalik kala kejayaannya diraih. 150 kilogram ikan dapat dibungkus dalam box berisikan es di rumahnya.

Suaranya bergetar ketika dia mencoba menceritakan kisahnya akhir tahun 2022 silam di mana ada angin ribut memporakporandakan laut. 

Cuaca menjadi aktor utama ketika mencari ikan di laut. Sebab, penokohan cuaca menjadi penentu nelayan bisa berangkat memanen ikan. “Ketika terjadi krisis iklim, ibaratnya kalau misalnya air laut panas atau gimana, jarang ada ikan.”

Seorang pria dari Kelurahan Nipah-nipah, bernama Armansyah (33) terlihat sedang merajut jaring-jaring berlubang yang disangkutkan di bilah pohon. Dirinya menceritakan kehidupannya sebagai nelayan tradisional dengan memanfaatkan alat tangkap belat. Cerita diawali dengan kisah pilu mengenai profesinya.

Akibat cuaca ekstrem, belat yang dimilikinya di pesisir pantai Nipah-Nipah banyak rusak. Ombaknya dan arus kadang kala datang secara serampangan menghantam jaring-jaring belat miliknya. Tidak heran jika di musim angin, semua aktivitas nelayan berkurang.

Pasir pantai yang kian terkikis akibat abrasi, menjadikan pohon-pohon mangrove habis tumbang diratakan ombak besar, habitat ikan pun menjadi terganggu. Dirinya menyebut, murkanya iklim ini terjadi tak lain akibat ulah manusia.

Sama seperti Ahmad, akhir tahun 2022 silam, kala angin ribut menghampiri praktis mengganggu aktivitasnya sebagai nelayan belat. Belat yang dimilikinya banyak bolong, alih-alih mendapat penghasilan banyak, dirinya merugi hingga Rp5 juta. Padahal rata-rata penghasilan per hari Rp150 ribu ketika iklim bersahabat. 

“Saat belat rusak, mau tidak mau cari kerjaan lain, seperti kerja menjadi kuli bangunan, cari alternatif lain untuk menyambung hidup,” ujarnya sembari melanjutkan kegiatannya merajut jaring. 

Sejak dirinya menjadi nelayan belat pada tahun 2020 hingga saat ini perubahan sangat jelas terasa. Habitat ikan dinilai Armansyah sangat drastis berkurang. Selain karena perubahan iklim, banyak nelayan tidak bertanggungjawab seperti para  "pendogol" yang membabat ikan berukuran kecil.

“Terumbu karang habis tersapu oleh jaring hijau berukuran besar tersebut. Memang sudah ada teguran dari Dinas Perikanan, cuma pengawasannya yang kurang,” ucapnya.

“Seharusnya tahun 2023 ini banyak ikannya, tetapi karena kemarin ada kilang minyak bocor itu mempengaruhi, karena banyak ‘lantung’. Padahal itu musimnya ikan, jadi hilang karena lautnya tercemar,” lanjutnya kesal.

Beragam permasalahan yang cukup kasuistik itu disebut Armansyah harus ada penguatan pada sektor maritim seperti menciptakan pemecah ombak dan reboisasi demi membantu para nelayan dan menjaga habitat ikan serta menjamin sumber kelautan dapat terpenuhi di PPU. 

“PPU bisa memenuhi sektor maritim IKN, tetapi harus dibenahi dulu semuanya, seperti dipasangkan pemecah ombak, terus adakan lagi reboisasi untuk mangrove karena mangrove itu sumber kehidupan besar di laut, ikan, udang,  begitu juga kepiting bertelur di situ,” tegasnya.

Hadirnya IKN Nusantara memang akan memiliki dampak positif untuk PPU. Meski begitu, Armansyah mengungkapkan PPU harus memiliki alternatif. Selain nelayannya melakukan penangkapan ikan, budidaya ikan dengan cara-cara yang lebih modern perlu dilakukan. 

“Maka dari itu kita harapkan dari dinas terkait dapat memberi bantuan dan memberikan solusi untuk kami,” tuntutnya.

Perubahan iklim dinilainya bisa mengancam nasib para nelayan, sebab jumlah dan jenis ikan antara nelayan belat satu ke yang lain relatif sama. Jika musim ikan telah datang, semua nelayan belat mendapat hasil yang rata namun jikalau musim ikan sedang sulit, semua nelayan praktis mendapati kesusahan.

“Kalau untuk masalah pendapatan itu relatif, semua orang berusaha pasti mau keuntungan, tetapi belat ini alhamdulillah jadi tumpuan penopang ekonomi kami para nelayan,” pungkasnya.

Perubahan Iklim Laut oleh Ulah Manusia

Sejalan dengan pendapat Armansyah yang menilai perubahan iklim terjadi akibat ulah manusia, akademisi sekaligus peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Muhammad Syahrir mengakui bahwa sebagian besar penyebab terjadinya perubahan iklim akibat aktivitas manusia. 

“Perubahan iklim memang paling besar dipengaruhi dari kegiatan aktivitas manusia. Kalau secara alam cuma ketika dia terpapar pada suhu yang ekstrem. Tapi secara alami, mereka masih bisa bertahan, tidak semua punah. Tetapi ketika intervensi manusia dengan berjangkar sembarangan, apalagi bombing, itu kan praktis merusak,” ucapnya. 

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perubahan iklim diartikan sebagai fenomena yang bisa dipicu oleh tindakan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun sebagian besar penyebab perubahan iklim terkait dengan aktivitas di daratan, penting untuk diakui bahwa manusia juga berperan dalam memperparah perubahan iklim melalui serangkaian tindakan yang terjadi di lautan.

Beberapa aktivitas yang dapat berkontribusi pada atau memperburuk perubahan iklim di perairan laut termasuk kegiatan pertambangan mineral dan pasir, penangkapan ikan yang merusak atau ilegal, juga dikenal sebagai "unregulated, unreported fishing," serta pencemaran laut oleh sampah dan limbah. Semua ini mengakibatkan dampak yang serius, termasuk pemutihan karang, kerusakan habitat lamun dan hutan mangrove, penurunan populasi ikan, serta gangguan terhadap rantai makanan di ekosistem laut.

Dampak dari perubahan iklim ini tidak hanya terbatas pada ekosistem laut, tetapi juga membayangi kesejahteraan masyarakat pesisir. Ancaman seperti abrasi pantai dan penurunan tingkat biodiversitas semakin menguat.

Terlebih, laut Indonesia mencakup sebagian besar dari Segitiga Terumbu Karang, suatu kawasan yang mengandung 76 persen spesies karang dunia menurut Veron et al. (2009) dan 37 persen spesies ikan karang dunia ada di Indonesia menurut Hoegh-Guldberg et al. (2009).

Akademisi sekaligus peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Muhammad Syahrir. (Fauzan/Kaltimtoday.co)

Ada poin yang benar-benar perlu diperhatikan pada proses terjadinya perubahan iklim, kata Syahrir, utamanya terkait nelayan. Pertama, terkait iklim yang membuat nelayan sulit mencari ikan, ini terlihat saat terjadi persoalan tingginya ombak. 

Terlebih, nelayan di PPU memiliki unit penangkapannya terutama untuk kapal masih di bawah lima  gross tonnage dan hal itu menjadikan akses nelayan menjangkau area penangkapan yang lebih luas menjadi sangat sulit.

Kedua, iklim berpengaruh terhadap ekosistem yang ada di dalamnya, artinya kerusakan ekosistem bisa disebabkan oleh pengaruh perubahan iklim. Salah satu contohnya terlihat ketika garis sempadan pantai dan ekosistem pesisir terkena gerakan langsung dari air laut. 

“PPU paling khas itu abrasinya. Ketika abrasi, yang dihantam itu ekosistemnya, misalnya mangrove atau tataran di belakang mangrove,” tuturnya. 

Jika kualitas mangrove baik, produktivitas primer yang menghasilkan makanan ikan dapat tersedia. Namun ketika abrasi terjadi dan membabat habis ekosistem mangrove, justru bisa menghilangkan makanan ikan. 

Hutan mangrove Indonesia adalah yang terbesar di dunia, mencakup 18 persen dari total dunia. Selain itu, Indonesia juga merupakan produsen ikan tangkapan liar terbesar kedua di dunia (Tran et al. 2019) dan memenuhi sekitar 25 persen dari permintaan perikanan global (BKPM 2018).

Syahrir menyebut, sulitnya melaut terjadi ketika ada ombak besar datang, terlebih posisi pesisir PPU berhadapan langsung dengan Selat Makassar. Ketika angin dari timur menghampiri, hal itu menjadikan nelayan sulit melaut.

“Makanan alami ikan sudah mulai berkurang akibat kerusakan ekosistemnya. Jadi itu pengaruh dari pergerakan air laut karena yang kita sebut tadi iklim ekstrem. Mau tidak mau kita harus mitigasi,” terangnya.

Untuk mengatasi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap nelayan disebutnya sangat sederhana secara teori, namun implementasinya sedikit sulit. Siasatnya, mesti digerakkan kelompok masyarakat nelayan yang dibina langsung oleh Dinas Perikanan. Sebab dinas terkait paling bersentuhan dengan kegiatan-kegiatan tersebut. 

Kelompok masyarakat nelayan yang nantinya punya fungsi pengawasan dinilai mampu menjaga lingkungan pesisir dan laut dengan tidak kita melakukan penebangan dan pengambilan secara ilegal.

Menghadapi tantangan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat nelayan, pembangunan ekonomi nasional berbasis kelautan dan perikanan yang berkelanjutan menjadi keharusan. 

Selama ini, pemerintah telah berupaya keras dalam merancang kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Salah satu upaya yang signifikan adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri KP) yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak tahun 2009, yang terintegrasi di bawah Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Kunci keberhasilan PNPM Mandiri KP terletak pada kerjasama erat dan komitmen dari semua pihak yang terlibat, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan program ini.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2/PERMEN-KP/2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan, ini menjadi panduan untuk mendampingi masyarakat nelayan dalam proses pemberdayaan mereka secara berkelanjutan.

Namun itu saja belum cukup, dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan, pemberdayaan masyarakat nelayan menjadi salah satu langkah penting untuk mencapai kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Dia menyebut, pemerintah mesti mengembangkan kebijakan yang mendukung ketahanan nelayan, mereka harus konsen di daerah-daerah yang hasil tangkapannya sudah mulai berkurang dari sisi jumlah, ukuran, jenis, jarak melautnya yang jauh dan tidak ada kestabilan di tempat tersebut.

“Masyarakat bisa bergerak kalau ada yang mengayomi, kalau sekarang mau murni komunitas yang bergerak, dia butuh sokongan dana, kebijakan dan lainnya, tidak bisa sendiri,” tegasnya.

Pendidikan di bidang pelestarian lingkungan laut juga tidak kalah penting diberikan kepada nelayan. Hal itu juga dapat menjadi solusi dengan mendidik nelayan bagaimana memelihara lingkungan laut dan diberi pengertian pentingnya melestarikan habitat ikan.

Peran Laut

Laut, sebuah kekayaan yang sering kali kita anggap sebagai tak terbatas, ternyata memiliki dampak yang sangat signifikan pada ekonomi global, lingkungan, dan kesejahteraan manusia. 

Menurut World Resources Institute (WRI) Indonesia, kontribusi laut terhadap perekonomian dunia mencapai angka yang signifikan, yakni sekitar 2,5 triliun dolar AS setiap tahunnya. Namun, keberhargaan laut jauh lebih dari sekadar angka.

Laut adalah sumber pangan bagi lebih dari 3 miliar penduduk dunia. Ia juga menjadi rumah bagi lebih dari separuh spesies yang ada di planet ini, menciptakan ekosistem yang mengagumkan dan beragam. 

Tak hanya itu, laut juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global, menghasilkan sekitar setengah dari oksigen yang kita hirup, dan menyerap seperempat dari emisi karbon dioksida yang kita hasilkan.

Meskipun kelimpahan dan manfaat laut bagi kita begitu besar, sayangnya laut kita berada dalam bahaya. Marine Trends Report milik WRI Indonesia mengatakan bahwa ancaman terhadap lautan datang dari berbagai arah, termasuk perubahan iklim, pencemaran, overfishing, dan perusakan habitat laut. Semua ini mengancam tidak hanya keberlangsungan laut itu sendiri, tetapi juga kelangsungan hidup manusia yang sangat bergantung padanya.

Indonesia, negara yang abadi berjuang di alamnya, melawan berbagai tantangan alam yang tak terduga akibat pembangunan yang sering kali mengabaikan kelestarian. Laut, bagian paling megah dari dunia alami kita, juga tak luput dari derita ini. 

Masalah polusi laut dan pesisir, perubahan iklim yang mengancam, dan perusakan habitat terus bergerak seperti gelombang tak berkesudahan. Permintaan akan sumber daya, terobosan teknologi, penangkapan ikan yang tamak, serta tata kelola dan penegakan hukum yang rapuh semuanya turut menghancurkan kemuliaan laut.

Di samping itu, penangkapan ikan yang liar, tidak terdokumentasi, dan tidak terkendali melanjutkan perjalannya, merusak ekosistem laut yang rapuh. Terumbu karang, surga bawah laut yang berkilauan, kini terancam oleh keberanian tak bertanggung jawab manusia yang semena-mena.

Namun, semakin dalam penderitaannya, terumbu karang harus menghadapi juga amarah alam, dengan perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu laut dan pengasaman tak terhindarkan. Sungguh tragis, sekitar 82 persen terumbu karang Indonesia telah diganjar malapetaka (Berdasarkan Burke et al., 2002).

Indonesia, sayangnya, juga telah memegang gelar buruk sebagai salah satu kontributor terbesar sampah plastik di lautan dunia, satu tingkat di bawah Cina. Tahun 2010 menjadi saksi bisu ketika sekitar 1,29 juta ton dari total 3,2 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di Indonesia menemui peraduannya di laut (Berdasarkan Jambeck et al., 2015). 

Pencemaran plastik ini, seperti suara bisikan dari lautan, mengganggu bukan hanya kehidupan bawah laut yang sunyi, tetapi juga manusia yang duduk di puncak takhta rantai makanan laut, membawa ancaman yang tak terlihat namun nyata.

Upaya Pemerintah Lokal

Perubahan iklim yang semakin nyata bukan hanya sekadar teori ilmiah, tapi kini menjadi kenyataan pahit bagi para nelayan di pesisir PPU. Cuaca yang tak menentu dan musim pancaroba yang merajalela telah merenggut sebagian besar potensi penangkapan ikan mereka. 

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Perizinan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) PPU, Mirsal Damanik memaparkan tentang dampak yang dirasakan oleh para nelayan di pesisir PPU.

Perubahan iklim mengubah tata cara beroperasi para nelayan di PPU. Instruksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membatasi aktivitas penangkapan selama cuaca ekstrem telah memaksa mereka untuk menjaga jarak dari perairan yang tidak stabil, dan tentu saja mengurangi potensi hasil tangkapan.

Akibatnya, penurunan penangkapan terjadi di sejumlah wilayah, seperti di Waru, di mana nelayan "gae" kini mengurangi operasi mereka, bahkan kapal ketinting pun enggan berlayar. Perubahan iklim bukan hanya soal hasil tangkapan yang berkurang, tapi juga mengancam keselamatan nelayan.

“Perubahan iklim ini membuat kekhawatiran dalam hal keselamatan, karena baru-baru ini ada tenggelam kapal nelayan PPU di bulan Agustus," kata Mirsal saat ditemui di ruangannya. 

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Perizinan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) PPU, Mirsal Damanik. (Fauzan/Kaltimtoday.co) 

Perairan yang semakin tak terduga dan berbahaya memaksa nelayan untuk berpikir dua kali sebelum melaut. Menurut Mirsal, perubahan iklim yang terjadi di perairan dan pesisir PPU adalah bagian dari proses alam. Namun, hal ini juga berdampak serius pada ekosistem, terutama terhadap ekosistem karang. 

"Ada beberapa karang seperti di Pantai Lango dan Jenebora menurut survei kami beberapa daerah itu sudah hancur karangnya sehingga mengkhawatirkan nelayan," ungkapnya.

Menghadapi kondisi yang semakin sulit, sebagian nelayan PPU memilih mencari pekerjaan alternatif. Mereka takut akan cuaca buruk dan gelombang tinggi, sehingga lebih memilih berkebun atau menangkap udang di perairan yang dekat.

"Saat ini kita masih Raperda untuk menghadirkan jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan untuk melindungi nelayan," tambah Mirsal. 

Rencananya, para nelayan akan dijamin keselamatan mereka dan keluarga mereka oleh BPJS Ketenagakerjaan, sehingga mereka merasa lebih aman dalam menjalankan profesi berisiko tinggi ini.

Meski begitu, para nelayanan hanya dijamin kematiannya, kecelakaan ringan maupun berat. Namun tidak dengan kapal-kapal para nelayan yang hancur diterjang ombak seperti yang dipaparkan Mirsal. Padahal, perubahan iklim telah mengakibatkan kerugian ekonomi bagi nelayan. 

"Rata-rata kerugian nelayan terkait perubahan iklim saya rasa ada sekitar 30%," ungkap Mirsal. 

Penurunan hasil tangkapan menjadi faktor utama yang menyebabkan kerugian ini. Dalam upaya untuk mencari mata pencaharian bagi keluarganya, banyak nelayan PPU memilih untuk mencari pekerjaan alternatif. Mereka beralih ke penangkapan yang lebih mudah terjangkau, seperti menangkap udang di daerah muara.

Perubahan iklim bukan hanya soal statistik, tetapi juga cerita kehidupan nelayan yang penuh perjuangan. Para nelayan berjuang untuk mencari nafkah dan melindungi sumber daya laut sambil menghadapi perubahan iklim yang semakin tak terelakkan.

Hal ini menghadirkan tantangan serius bagi nelayan di PPU. Meskipun mereka mencari cara untuk bertahan dan beradaptasi, perlu perhatian serius dari pihak berwenang dan dukungan masyarakat luas untuk membantu mereka mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah pesisir PPU.

Sebab, data dari DKP PPU menunjukkan Angka Konsumsi Ikan (AKI) PPU pada tahun 2022 tercatat Kecamatan Penajam sebanyak 74,49 kilogram perkapita, Sepaku 70,80 kilogram perkapita, Waru 70,53 kilogram perkapita dan Babulu memegang AKI terbanyak di PPU sebanyak 103.46 kilogram perkapita.

Data ini menunjukkan masyarakat PPU sangat menyukai mengkonsumsi ikan tangkap dan menandakan kemampuaan daya beli masyarakat yang tinggi. Terlebih, potensi kelautan dan perikanan PPU masih sangat tinggi dan dapat dikembangkan. 

Penyuplai Maritim IKN

Dengan beragam masalah itu, apakah PPU sendiri mampu memenuhi sektor maritim atau perikanan kala IKN Nusantara datang nantinya?

Pokja Pesisir, sebuah lembaga yang bekerja untuk isu pelestarian dan penegakkan hukum lingkungan hidup khususnya bagian pesisir laut merespon hal ini. 

Selain menggembar-gemborkan pembangunan IKN Nusantara, pemerintah dinilai mesti memberikan langkah konkret terkait perlindungan masyarakat dan lingkungan di pesisir dalam pembangunan ibu kota baru.

“Kayaknya tidak sanggup. Memenuhi kebutuhan lokal saja kan kurang apa lagi akan memenuhi kebutuhan orang banyak di IKN Nusantara,” tegas Direktur Eksekutif Pokja Pesisir, Mappaselle.

Ia menilai, dalam perencanaan pembangunan mestinya pemerintah melihat proyeksi jumlah penduduk dengan berbagai macam kebutuhan dan di mana cara memperolehnya. Sebab, ada laut yang harus dijaga kelestariannya.

Yang punya kewenangan menjaga lingkungan tersebut adalah pemerintah, sebab masyarakat sudah memberikan hak atau atau kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan nasib warganya.

Selain itu, masyarakat memilih kepala daerah lewat pemilu agar dia bisa secara arif mengatur semua kebutuhan hidup masyarakat. Dalam konteks kawasan pesisir dan wilayah tangkap nelayan, pemerintah harus menjaga wilayah tangkap yang potensial.

“Ada kecenderungan dalam pengaturan ruang wilayah tangkap nelayan itu adalah wilayah yang terakhir ditentukan. Jadi bukan melihat potensial wilayah perikanannya dan sumber daya perikanannya, tetapi sisa dari kavling-kavling dari sektor yang lain. Sektor industri, sektor pertambangan, sektor pelayaran, sisanya itu baru buat nelayan,” kritiknya.

Seiring dengan perubahan ekosistem di perairan PPU, katanya, muncul pertanyaan-pertanyaan kritis. Pertama, apakah pergi lebih jauh ke laut akan menjamin hasil tangkapan bagi nelayan jika lingkungan di daerah tersebut juga tidak terjaga? Kedua, apakah nelayan akan dengan mudah beradaptasi dengan perubahan tersebut? 

Proses adaptasi tidak selalu mudah, terutama ketika nelayan harus berhadapan dengan gelombang besar dan angin kencang tanpa tempat perlindungan yang pasti. Selain itu, mereka juga perlu mengidentifikasi dengan cermat di mana sumber perikanan yang melimpah dapat ditemukan. Ini adalah tantangan besar yang memerlukan perhatian serius untuk menjaga mata pencaharian nelayan dan ekosistem laut yang rapuh.

Direktur Eksekutif Pokja Pesisir, Mappaselle. (Fauzan/Kaltimtoday.co) 

Menurut Mappaselle, akar perubahan iklim jua berpengaruh bagi para nelayan yang ruang hidupnya bergantung pada laut. Ini dapat ditelusuri pada suhu yang semakin meningkat. 

"Perubahan iklim di perairan PPU ini terjadi akibat suhu yang tinggi," ujarnya dengan nada prihatin. 

Suhu yang tinggi menyebabkan kadar oksigen dalam perairan itu berkurang, jika kadar oksigen berkurang maka plankton juga menjadi berkurang dan sumber makanan ikan berkurang. Ikan juga sulit untuk hidup dalam perairan yang rendah oksigen," tambahnya.

Namun, masalah ini hanya sebatas suhu tinggi. Ancaman lain mengintai dalam bentuk pasang air laut yang tinggi pada beberapa kasus, telah menyebabkan kerusakan tambak. Mappaselle menjelaskan, di beberapa daerah yang memiliki tambak jebol lantaran perairan yang tinggi. Selain itu ada kecenderungan mangrove yang lama terendam, menjadi mati. 

Saat menjelaskan mengapa perairan PPU yang berada di Teluk Balikpapan mengalami degradasi ekologi yang signifikan, Mappaselle berkisah tentang peristiwa di tahun 1990-an. 

"Kerusakan itu berawal di awal tahun 90-an. Ketika ada industri terbangun di Teluk Balikpapan di Kawasan Industri Kariangau, mereka membuka kawasan mangrove tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan," tuturnya. 

"Pada saat itu, mereka tidak memikirkan dampaknya yang besar. Mereka membuka mangrove tanpa memiliki cara untuk mengendalikan sedimen yang turun ke laut saat hujan. Sedimen ini membentuk rantai panjang yang menutup pori-pori terumbu karang, yang akhirnya menyebabkan kematian terumbu karang itu," lanjutnya.

Permasalahan semakin kompleks ketika sedimen yang sangat tinggi menumpuk di Teluk Balikpapan. Kawasan itu cenderung tertutup dan tidak memiliki sungai besar yang mampu melakukan pendorongan yang kuat, sebagian besar sedimen berasal dari daratan tertahan di sana. Akibatnya, laju sedimentasi di Teluk Balikpapan menjadi sangat tinggi.

Semua perubahan ini menggerus kualitas lingkungan, dan tambahan masuknya industri-industri besar ke Teluk Balikpapan telah mempersempit wilayah tangkap nelayan. 

"Banyak industri yang masuk ke Teluk Balikpapan dan mengurangi luasan wilayah tangkap nelayan, terutama yang terhubung dengan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS)," ungkap Mappaselle. 

Dia menjelaskan bagaimana pendirian TUKS mempersempit wilayah tangkap nelayan, dengan radius 500 meter dari TUKS yang secara tegas melarang aktivitas nelayan. Situasi semakin rumit dengan berlabuhnya kapal-kapal besar di Teluk Balikpapan, menciptakan hambatan yang sangat nyata, terutama saat nelayan mencoba memasang jaring di antara kapal-kapal tersebut.

Pada akhirnya, permasalahan ini mengarah pada konflik antara kapal besar dan nelayan yang bergantung pada wilayah tangkap mereka.

“Lalu lintas kapal juga menjadi masalah karena banyak nelayan yang baru saja memasang jaring harus berurusan dengan kapal yang tiba-tiba muncul di wilayah tangkap mereka. Nelayan dihadapkan pada dua pilihan sulit: menarik jaring mereka dengan cepat, meskipun dengan risiko kehilangan ikan, atau mencoba bertahan dengan jaring mereka dan berharap ada ikan yang tertangkap tanpa kerusakan,” paparnya.

Selain itu, lokasi berlabuhnya kapal-kapal seringkali berada di wilayah terumbu karang, yang merupakan sumber mata pencaharian utama nelayan menghadirkan ancaman besar dan masalah serius yang harus diatasi secara komprehensif.

Mappaselle menegaskan bahwa, Teluk Balikpapan yang selama puluhan tahun telah menjadi tempat favorit nelayan, memiliki nilai ekosistem yang sangat tinggi. Beberapa nelayan yang generasinya sudah berusia 80 hingga 90 tahun menceritakan bahwa mereka bisa mengidentifikasi sumber ikan hanya dari rumah mereka dulunya.

“Mereka bisa mendengar suara gerombolan ikan bermain air atau merasakan aroma masakan istri mereka yang sedang memasak di rumah, semua ini dapat dirasakan dari wilayah tangkap mereka yang dekat dengan pemukiman," paparnya.

Namun, perubahan dalam regulasi telah menyulitkan para nelayan. “Regulasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota dan provinsi yang mengintegrasikan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3) tidak mengalokasikan ruang tangkap di Teluk Balikpapan. Jadi pengaturan ruang itu seolah-olah ingin memisahkan nelayan pesisir ini dengan wilayah tangkapnya selama ini, makanya mereka makin terhimpit," jelas Mappaselle.

Di tengah persoalan yang semakin memburuk, terasa tidak adil melihat bagaimana ruang dan sumber daya di Teluk Balikpapan telah dialokasikan. Kapal-kapal besar dengan kapasitas ratusan hingga ribuan ton, yang terbuat dari plat besi baja, diberikan izin untuk berlabuh di perairan Teluk Balikpapan yang terkenal dengan gelombangnya yang relatif teduh. 

Sebaliknya, para nelayan dengan kapal-kapal kecil, yang mungkin terbuat dari bahan seperti triplek atau bahkan kayu, diharuskan berlayar ke Selat Makassar yang dikenal dengan ombak yang tinggi dan ganas. Ini adalah ketidakadilan yang jelas dalam pengaturan ruang dan sumber daya.

Mappaselle yang juga punya latar belakang sebagai nelayan memberikan gambaran mengenai minimnya fungsi pengawasan pemerintah terhadap wilayah tangkap. Ia mempertanyakan alasannya mengapa kapal-kapal besar diberi izin untuk berlabuh tanpa mempertimbangkan berbagai kepentingan, terutama masyarakat nelayan yang bergantung pada perairan tersebut sebagai sumber penghidupan mereka. 

Kapal-kapal ini juga memiliki potensi besar untuk mencemari perairan dengan batubara yang tercecer dan tumpahan minyak yang berdampak buruk. Oleh karena itu, perlu ada penataan ulang terkait penempatan kapal-kapal ini untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan masyarakat nelayan.

Teluk Balikpapan, yang sering disebut sebagai rumah bagi masyarakat pesisir, kini berjuang untuk mempertahankan keseimbagan ekologis dan kehidupan sehari-hari mereka. Dalam menghadapi ancaman berbagai aktivitas industri dan lingkungan yang semakin memburuk, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah masyarakat pesisir yang telah lama bergantung pada Teluk Balikpapan sebagai sumber penghidupan mereka.

Beban sampah plastik di perairan juga telah menjadi ancaman serius yang sangat mengkhawatirkan. Dampaknya terhadap kualitas lingkungan pesisir tidak dapat diabaikan. 

“Nelayan itu, untuk menjamin keberlanjutan ekonominya dia hanya butuh dua hal. Yang pertama pesisirnya hijau dan yang kedua lautnya biru. Dua hal itulah yang akan menjamin sumber daya perikanan berkelanjutan,” tutupnya.


Tulisan ini menjadi bagian dari program #EU4WARTAWAN yang dilaksanakan oleh Uni Eropa. Terlaksana atas dukungan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Project Multatuli.


Berita Lainnya